Ditemani Nina Simone, saya berkontemplasi tentang banyak hal yang belakangan ini terjadi, internal dan eksternal diri saya. Rasanya ada pepatah lama yang bilang, lebih sulit mempertahakan ketimbang memulai. EH, kok saya justru merasa sebaliknya ya? Saya termasuk orang yang lambat panas. It takes 7 taps for me when others only need 1. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa blog ini bersifat intermittent; cuma ada tulisannya pas otak saya lagi musim hujan.

O. K. Apa kabar hari ini? Hmmm not much, masih puzzled dengan apa yang harus saya tulis untuk tugas dari Pak Guru, masih berasa di awang-awang dan berusaha menggabungkan energi kosmik untuk saya monopoli (apa sih?). Eh ngomong-ngomong soal Kosmik, kemaren saya ikut kuliah Cosmology. Cosmology: The Origin and Evolution of the Universe. Sesuai judulnya, kuliah ini ngomongin jagat raya dan isinya. Thanks to this class, saya jadi ngerti, kalau ternyata: diameter bumi itu 1/11 – nya Jupiter, 1/109-nya matahari; DAN satu tata surya kita (dari matahari sampai planet kerdil terluar) jaraknya adalah 10000 JUTA kilometer; DAN jarak antar bintang terdekat (misalnya matahari terhadap alpha centaury) adalah 1 tahun cahaya yang sama dengan 9460730472580.8 km; DAN 10-12 bintang membentuk satu galaksi; DAN galaxy cluster terdiri dari 10-1000 galaksi DAN ukurannya bisa sampai 10.000.000 tahun cahaya. DAN mengingat bahwa berat massa seluruh manusia yang ada di dunia hanya kurang dari 0.00000000001% massa bumi, maka dengan itung-itungan kasar, berat massa seorang manusia rata-rata hanyalah 0.0000000000000000000015 %-nya massa bumi (walaupun seorang kawan mengusulkan seharusnya litosphere sampai ke inti bumi di exclude dari massa bumi). WOW. Now imagine how super duper teeny weeny beety we are!

Mau merasa lebih kecil lagi? Please do check these links, this and this (thanks to Mas Rus yang sudah posting beginian ke milis yang saya ikuti). And it appears that I am the  4,803,053,752nd person alive on Earth and the 79,594,478,376th person to have lived since history began, ever since the presence of the very first Homo Sapiens. To be more precise please check on the second link. Tentu saja, ini bukan hitungan yang benar-benar tepat 100 %, karena dibuat berdasarkan beberapa asumsi. Tapi saya percaya, error-nya tidak terlalu besar, dengan melihat asumsi-asumsi yang mereka gunakan.

It's me, what about yours?
It's mine, what about yours?

Pada hari saya dilahirkan, yaitu 16 Oktober 1984:

Still, my numbers, why don't you try yourself?
Still, my numbers, why don't you give it a try?

Indonesia’s population is in fact reaching the number of 240,732,043 by the hour I wrote this.  Every hour, there are: 510Births and 193Deaths. Yang cukup mengganggu adalah, tingkat kelahiran per-hari kita tidak terlalu jauh dari Qatar, negara dengan pertumbuhan tercepat yang per-hari-nya melahirkan 514 orang. Tight competition, secara kita hanya beda 4 angka dari Qatar.

O.K. Back to BBC’s link. Here is the result of my entry:

Saya wanita, dari Indonesia
Saya wanita, dari Indonesia

Angka harapan hidup Indonesia ternyata lumayan rendah, semoga orangtua-orangtua saya berumur panjang deh. Eh lihat yang paling bawah kan? Angka 2094 itu? Menurut perhitungan mereka, sejak saya main-main nggak guna di situs mereka, populasi Indonesia sudah bertambah sebesar 2094 orang. Glek Gulp!

Terus gimana sih bisa keluar angka 7 billion itu? Jadi begini kalkulasinya:

So, 7 billion is the number
So, 7 billion is the number

Kenapa sekarang saya nggak cuma merasa kecil ya, tapi juga merasa sumpek. Indonesia adalah negara ke-4 terbesar populasinya di dunia, secara kita masih belum bisa mengalahkan USA (Hey, see we have another thing in common with Uncle Sam!). Leave alone Cina dan India deh, yang jauh meninggalkan negara-negara lain dalam urusan bikin anak. Padahal Cina sudah dengan ketat menerapkan kebijakan 1 anak dalam tiap keluarga loh. Beberapa orang Cina yang saya kenal (dan yang kebetulan umurnya beberapa tahun di bawah saya) ternyata adalah anak tunggal.

Belum lagi bicara masalah ketersediaan pangan, pemerataan pendidikan dan kesejahteraan, peningkatan taraf hidup yang semua ujung-ujungnya masuk kategori kemiskinan terstruktur. Nggak terbayang di pikiran saya, jika suatu hari Indonesia jadi dua kali lipat lebih padat dari sekarang, dan memaksa kita mengekspor tenaga otot yang nggak punya pilihan untuk hidup selain menjual badannya untuk kerja kasar di negara orang. Percaya deh, dalam kemiskinan dan kebodohan, maka wanita dan anak-anak akan jadi objek penderita. Saya adalah salah satu wanita. Ada alasan untuk berjuang agar tidak jadi penggembira (dan lama-lama jadi objek penderita) di bumi. Jadi menurut saya, wanita adalah kuncinya. Wanita sendiri yang memegang nasib mereka di masa depan. Wanita punya pilihan untuk melahirkan generasi sebanyak apa dan seperti apa. Manusia tanpa ekor a.k.a wanita ber-HAK untuk memilih melahirkan berapa kali dan menentukan masa depan kaumnya sendiri. Yaaah, biarpun kata temen saya, bikin anak bukan soal sekali jadi. * Uhuk uhuk. Tapi, SAYA pribadi sih maunya punya anak 2, atau kalau nggak, maksimal: kurang dari atau sama dengan 3 (amin, *eh apa sih? kok malah curhat nggak jelas).

Merujuk ke pendapat seorang teman saya, bumi, secara fisik, pasti punya daya dukung terhadap menggembungnya populasi dunia. He perhaps is correct. Tapi, disini yang justru mengkhawatirkan adalah daya dukung peradaban terhadap membludaknya variasi individu. Satu keluarga yang punya terlalu banyak anak, apalagi dalam kondisi yang kurang beruntung, biasanya punya masalah tersendiri. Pernah nonton Oshin kan? Itu lho drama Jepang yang di putar di tv nasional kita jaman dulu banget? If you did, mungkin bisa ingat susahnya keluarga Oshin. Sekolah? jangan mimpi deh, makan aja susah. Dan di saat yang sama, ibu-nya Oshin masih terus melahirkan. Do you see the chain? Ayolah, jangan tutup mata, saya yakin di Indonesia masih banyak keluarga yang hidup di ujung tanduk seperti keluarganya Oshin. Thus, satu hal yang kita saat ini bisa lakukan (dalam skala lingkup keluarga/calon keluarga kita sendiri) adalah memastikan terbentuknya generasi yang berkualitas dan punya daya juang. Ruwet ya? Ehhh ya gitu deh.

O.K. Cukup berita seramnya. Kabar gembiranya adalah: The enormous universe (and of course the Mother Earth) is definitely huge, thus it provides us probabilities of surprises. Yes, believe me it does. Well, saya nggak mau tulisan ini berlanjut jadi penuh motivasi, ala Jalan Emas-nya Mario Teguh, yang kelihatannya harus selalu disampaikan dengan template senyum tertentu. Well, hey! Kenapa harus bingung? We have a life to live. And our job is to make it wonderful.

Buat wanita-dapat salam manis dari Nina

U P D A T E

Tulisan ini sudah di edit dan di update pada tanggal 24 November 2011. Unsur-unsur yang tidak menyenangkan bagi orang yang saya sayang, sudah saya hilangkan, dan saya tulis ulang.

Iklan

4 pemikiran pada “7 billions (and other numbers beyond my thought)

  1. Percaya nggak kalau saat ini makin banyak orang yang memutuskan untuk tidak mengikuti jejak orang tua mereka dengan menikah di usia yang “wajar”. Dengan pelbagai alasan terutama masalah masa depan dan bagaimana membiayai keluarga.

    that’s true coz i’m one of them

    melihat statistik di figur 1, dengan populasi asia yang begitu besar pantes aja jadi pasar yang empuk buat industri. but remember, jadi pasar “means that” akan “diusahakan” untuk terus menjadi pasar…bukan produsen..CMIIW (konspirasi tingkat awang2 neh)

    1. Percaya buat kasus di luar Indonesia. Tapi sepantaran saya di Indonesia sudah banyak yang kawin dan di lanjutkan dengan prokreasi. Mungkin saya juga salah satunya seandainya nggak ada halangan ya (curcol hehe)

      Iyak setujuh, apalagi ngeliat orang kita sekarang yang konsumerisme nya makin aduhai. Entah ya di level konspirasi tingkat tinggi, tapi di level rumah tangga menurut saya bukan tindakan cerdas kalo kita masih mendidik anak-anak kita jadi pasar. Dan itu yang susah, peralihan ke generasi yang berkualitas dan produktif bukan urusan 10-20 tahun. I believe it takes longer than that.

      *Welcome to the jalang eh lajang club. Laki mah no worries, ada pepatahnya makin tuwir makin njawir

      1. Njawir wis gak laku mbak….tuwir2 tongkrongannya masih honda bebek mah tetep ae angel (lho kok jadi bahasa kedaerahan)

        Wah gitu yah…terbalik..teman2 saya kok pada happy membujang semua yah (waktu kuliah satu angkatan 99,9% laki-laki, 0,1% casingnya saja yang wanita).

        mengenai konsumerisme (maaf sedikit out of context dari postingannya), sudah banyak yang mengulas masalah ini, akar masalah juga sudah dikuak habis, tapi kok ya teteeeep…saya juga termasuk salah satu korban meskipun tidak terlalu parah (50% parah lah). Setiap kali ikut seminar wirausaha, pulang seminar semangat menggebu-gebu untuk berhenti jadi konsumen, sampai rumah tidur (kebanyakan inputan), bangun2 lupa sama isi seminar…………balik lagi deh jadi orientasi konsumen…

  2. Hahaha memang sih banyak yang mengimani geometri laki itu nggak penting, yang penting ke-pribadi-annya.

    Oya? beda trend ya ternyata. Kenapa ya?

    Konsumerisme memang sulit di hindari. Saya juga doyan belanja, tapi masih dalam kadar terkontrol (terkontrol kondisi dompet hehe). Yang bikin miris itu pembelian yang nggak tepat guna, misalnya: anak SD udah di beliin hp atau malah smartphone, satu keluarga punya mobil lebih dari 2, satu cewek spatunya lebih dari 4…. *eh yang terakhir ngomongin diri saya sendiri ternyata hihi. Saya dan pacar pernah buka warung pinggir jalan modal kecil waktu masih S1 di jogja. Dan percayalah itu sesusah menggali sumur pake centong nasi.

    Jadi menurut saya, kalau memang sekarang kita masih dalam tahap konsumerisme akut, kita harus cari jalan untuk produktif di bidang yang lain. Semoga dengan gitu kita sudah masuk dalam tahap transisi generasi (balik ke konteks). Yahh pembenaran banget sih. Tapi at least kita bergerak (semoga) ke depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s