Trilogi pemurtadan: Sekardus indomie, ucapan selamat Natal dan sekarung beras


Kenapa ya? Setiap kali saya sedang serius belajar, adaaaa (*dengan banyak a) aja pengalih perhatian. Jadilah, sekali lagi, hari ini viscosity dan yield strength di kesampingkan untuk yang satu ini.

Sumbernya dari facebook seorang teman yang di tag oleh temannya.

MEREKA AKAN DIMURTADKAN!

Tanpa kita sadari, saudara seiman kita di pedalaman Gunung Kidul diincar oleh misionaris kristen untuk dimurtadkan.

90 menit dari tempat yang kita pijak menjadi saksi atas terjadinya pemurtadan pada saudara-saudara kita.. sementara kita hanya DIAM, terpana oleh indahnya dunia.

Keimanan kita layak dipertanyakan dikala kita diam, bungkam dan membisu tanpa mampu bertindak sedikitpun untuk menyelamatkan saudara kita di sana.

Saudaraku sudah saatnya kepedulian kita buktikan dengan tindakan nyata.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu, hingga kamu mengikuti millah mereka.” (Q.S Al Baqarah : 120)

SOLUSINYA : KAMI MENGADAKAN PROGRAM PEMBINAAN MASYARAKAT PEDALAMAN

waktu : Periode pertama Kamis, 12 Januari 2011
Penerjunan puluhan da’i ke daerah Tepus, Gunung Kidul serta Pembagian paket sembako untuk saudara-saudara kita kaum muslimin di sana

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkah hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”
(Q.S Al Baqarah : 245)

Paket yang ditawarkan :
• Paket Super Exclusive Rp 200.000,-(Beras 20 kg)
• Paket Istimewa Rp 100.000,-(Beras 10 kg)
• Paket Regular Rp 50.000,-(Beras 5 kg)
• Paket Ekonomis Rp 30.000,-(Beras 3 kg)
Keterangan :
PROGRAM “ONE MAN ONE KILOGRAM”

Dengan perhitungan harga satu kilogram beras Rp 7.500,-ditambah biaya operasional Rp 2.500,-

REK.MUAMALAT 0137484812 a.n. R**** F****** Z****
REK MANDIRI SYARI’AH 1547029708 a.n. G**** R*********

CP. G**** R********* 0856 **** ****
R**** F****** Z**** 0856 **** ****
*Harap konfirmasi lewat sms setelah mengirim
Jazakumullah khairan katsir

KERJASAMA :
Majelis Bina Aqidah (Al Misbah)
Dewan Masjid Indonesia (DMI) DIY
Pesantren Masyarakat Yogyakarta (PMJ)
Forum Silaturahim Remaja Masjid Yogyakarta (FSRMY)

Ini posternya:

One man One kilogram
One man One kilogram, ikut-ikut kementrian kehutanan One man One tree

Yang menarik lagi, di bagian comment si empunya isu nulis begini;

Kondisi terkini dari Lokasi
Pak Ngadiran (Takmir Masjid Tepus Gunung Kidul) mengatakan bahwa pada saat perayaan Natal kemarin, pihak misionaris membagikan 3 kg beras+Sarimi per KK kepada keluarga muslim

bahkan H-3 mereka mengadakan Natal bersama, terutama untuk anak-anak muslim yang masih polos

Pada malam menjelang Natal, pihak misionaris mengadakan pesta besar-besaran dengan menyembelih ANJING dan BABI sebagai jamuan pesta makan malam

Na’udzubillah

Kita harus bergerak, kita harus melawan
Tunjukkan kepedulian kita kepada saudara sesama muslim disana

Semoga Allah membalas kebaikan antum dengan karunia dan pahala yang berlipat ganda

Saya nggak tau harus memulai dari mana. Isu yang satu ini (isu kristenisasi) sudah jadul sebenernya. Dulu dengan Indomie satu kardus, orang sudah bisa murtad. Mengucapkan selamat Natal pun juga bisa bikin kita murtad sampe sekarang. Dan sekarang kelihatannya ada terobosan yang cukup baru (walaupun dengan metode mirip-mirip) dari para misionaris gereja. Berbagi beras dan Sarimi, Bos!

Untuk para penyebar isu kristenisasi, berikut saya sumbang saran langkah-langkah ampuh agar khalayak ramai (terutama orang Islam yang galau, sedikit labil walaupun sudah bukan ABG lagi, dan paranoid) lebih mudah termakan isu ini. Diharapkan setelah saran-saran saya di terapkan dengan baik, niscaya semakin banyak yang percaya isu yang Anda tebarkan, toleransi semakin tipis setipis iman Anda yang dilandasi galau dan rasa benci, dan pada akhirnya sumbangan akan semakin banyak terkumpul. Insya Allah.

  1. Modus kristenisasi berbagi beras (dan plus Indomie) kurang relevan dengan perkembangan zaman, dan masih berbau cara lama, yaitu berbagi sekardus Indomie. Agar khalayak lebih cepat ramai dan panas, tebarkan isu yang lebih progresif dan provokatif. Misalnya: misionaris gereja membangun sekolah gratis, dan bagi-bagi beasiswa perguruan tinggi untuk anak-anak muslim. Tujuannya disebarkan isu macam ini, agar para muslim kaya yang hampir tiap tahun naik haji atau umroh tergerak melakukan hal yang sama. Galang program yang minimal sama (atau lebih mentereng) dengan yang kita isu-kan telah dilakukan oleh misionaris gereja. Dalam hal ini, untuk calon-murtad, sebaiknya selain sekolah gratis dan beasiswa, ditambah dengan sumbangan kelengkapan fasilitas sekolah/kuliah, termasuk laptop dan buku-buku. Pahalanya pasti segambreng, secara jihad mencegah kristenisasi.
  2. Menyebarkan berita bahwa misionaris gereja mengadakan pesta natal besar-besaran dengan menghidangkan anjing dan/atau babi adalah blunder besar menurut saya. Sangat tidak elegant, karena isu Anda jadi terdengar lebih kacangan dan kental aroma hoax-nya. Coba sekarang otaknya di tune ke earth-mode dulu, kesampingkan heaven-mode yang bergelimang perawan eh pahala. Masak iya sih, misionaris gereja sebegitu gegabah-nya menghidangkan anjing dan/atau babi untuk target pemurtadan? Melakukan hal tersebut dijamin justru memancing rasa curiga calon-murtad, dan dapat mengundang antipati calon murtad terhadap para misionaris gereja, bahkan sebelum mereka di murtadkan. Tsk tsk tsk… Maaf, tapi sekali lagi saya harus bilang; isu Anda sangat tidak cerdas, Anda sudah meremehkan kemampuan misionaris gereja, dan juga sekaligus menganggap calon-murtad serta calon termakan-isu-yang-anda-sebarkan sebagai objek yang benar-benar bodoh. Memposisikan target Anda sebagai objek bodoh hanya tepat digunakan saat Anda sedang mempromosikan dogma dan propaganda Anda di kalangan sendiri.Kalau ini medan-nya, memastikan target Anda tetap bodoh adalah kunci keberhasilan. Tapi lain halnya jika kita sudah bicara tentang strategi menghadapi pihak misionaris gereja. Huge mistake, I assure you.
  3. Belajarlah pada walikota Bogor (atau ormas-ormas Islam keroyokan yang sudah punya nama) tentang, bagaimana caranya menggerakkan warga kebanyakan agar mudah tersulut emosinya. Cara ini terbukti sangat ampuh untuk menolak kristenisasi. Jangankan kristenisasi, orang beragama lain mau ibadah saja bisa mereka halangi. See, number is power.
  4. Sebagai tambahan yang tidak kalah penting, optimalisasi media massa. Mass-media is a powerful tool, people believe. Untuk itu, pastikan agar kondisi secara umum tetap berada pada posisi = kristenisasi <<<islamisasi. Dan disinilah kita harus pandai memanfaatkan media massa. Kita sudah terbukti menang disini. Sekarang hampir setiap stasiun televisi menayangkan program islamisasi, 24/7. Islamisasi lewat media massa ini terbukti mampu menciptakan specific ambience yang kita butuhkan agar umat Islam selalu waspada, tidak pernah tenang, warmed-up, penuh curiga dan siap perang setiap saat. Luar biasa bukan? Keep up the good work!

Ah sayang sekali, saya belum bisa memikirkan saran ampuh lainnya. Saya masih ada tugas lain yang tidak ada hubungannya dengan soal banyak-banyakan pengikut agama. Punya saran lain yang kira-kira lebih ampuh dari ini? Kita tidak boleh diam saja. Kasian akhi-akhi yang punya program ini harus berjihad sendirian. Tuhan pasti senang kalau kita bisa bantu akhi-akhi ini menambah jumlah umat muslim.

Well, selamat menyongsong tahun 2012! Mari kita awali tahun ini dengan menolak menjadi bodoh.

P.S. Nomor rekening sengaja saya biarkan terbuka, siapa tahu ada yang berminat ikutan menyumbang.

P.P.S. Eh eh, saya jadi penasaran, yang punya akun FB ini pas posting beginian di wall-nya dapat reaksi apa ya dari temen-temen FB-nya yang non-muslim? Uhmmm, wait! Sounds rethorical. Pertanyaan yang barusan saya cabut.

Iklan

18 pemikiran pada “Trilogi pemurtadan: Sekardus indomie, ucapan selamat Natal dan sekarung beras

    1. Sebenernya tulisan ini saya maksudkan untuk menyindir mereka yang suka menyebar isu-isu yang dilandasi rasa curiga terhadap umat beragama lain.

      Whether it happens or not, saya lebih suka berfikir jika memang ada orang yang pindah agama hanya karena beras dan indomi, pastilah orang tersebut tidak punya keimanan (apapun itu) to begin with. Dan saya juga meragukan iman orang yang menyebar isu kristenisasi. Kalau imannya kuat, kenapa harus takut dengan aktifitas/ibadah orang beragama lain? Kalau iman-nya kuat, pasti tenang-tenang saja biarpun dia jadi muslim sendiri di lingkungan yang beragama lain (apapun agamanya). Ini kritik saya terhadap orang-orang muslim kebanyakan yang paranoid, terkungkung dalam pikiran takut-nya sendiri.

      Membaca poster ini saya simpulkan, orang yang menyebarkan isu ini bukan orang asli jogja dan tidak punya teman yang bukan-muslim, karena; (1) dia merendahkan orang Tepus, dengan mengasumsikan mereka sebagai masyarakat pedalaman, dan (2) dia berasumsi semua orang kristen makan anjing dan/atau babi, Halooo, dan yang paling ultimate (3) dia dan teman-temannya merasa pintar dan telah merendahkan, membodoh-bodoh-kan masyarakat desa Tepus dengan selebaran yang mereka buat.

      Orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti mereka QS2:120

      Kita juga sama kok Pak, kita tidak akan senang, hingga semua orang non-muslim mengikuti kita. Jadi kalau agama lain (apapun itu) berdakwah seharusnya bukan jadi masalah bagi kita, karena kita juga lebih parah dan gencar berdakwahnya.

      Salam kenal Pak. Terimakasih sudah membaca dan mengapresiasi.
      *God help me, saya memang nggak bakat nulis satir ternyata.

      1. menurut saya sih satir itu bergantung audiensnya juga kok. Kalo emang audiensnya percaya menyulut emosi massa buat keroyokan itu high class yaaa wassalam aja satirnya

        *facepalm

  1. HAHA. mantep, sista.

    “galau, sedikit labil walaupun sudah bukan ABG lagi”

    di fakultas bnyk nih tipe kaya bgini. biasanya emg org2 galau yg dicari, soale
    gampang dipengaruhi 😀

    untung skrg di metro tv udah ada acara “Galau Nite”. moga2 mreka nonton jg. Biar cepet sembuh. he3.

    1. Hehe, ini selebarannya malah dapet dari fakultas seputaran sarjito, tapi bukan teknik.

      Benul Gem, menurut aku terlalu naif kalo dapet info beginian dan langsung percaya, terus kebakaran jenggot, langsung mau bantu orang. Terlalu pathetic kalo mau bantu orang hanya karena “merasa” takut kalah saing sama orang lain. Emang nggak bisa ya, bantu orang lain tanpa embel-embel menjelek-jelekkan pihak lain. Aku sendiri yang muslim ngerasa itu pathetic abis.

      Eh ada galau nite? cari di yutup ah

  2. Ada juga kadangkala isu misionaris ini malah dimanfaatkan untuk cari uang. Gampang sekali itu: hasud massa untuk nyumbang, lalu tak pernah bikin laporan pertanggung-jawaban keuangan.

    Btw, aku suka gaya menulismu. Hehe. Nyentil juga itu :mrgreen:

    1. Eh seriusan? Hmmm akut juga ya, kirain selama ini emang udah jadi kultur orang kita kebanyakan, anti bikin laporan pertanggung-jawaban, atau bikin tapi di manipulasi sedikit-banyak. Kalau dari tujuan awalnya aja memang untuk cari uang terasa makin menyedihkan aja.

      *Wah saya jadi malu, terimakasih Bang hehe

      1. 😆
        Jaman kuliahku dulu, waktu isu penegakan syariat Islam kencang berhembus, lalu diselipkan kristenisasi, aku lihat dan dengar dengan mata-kepala dan telingaku sendiri mahasiswa seperti beberapa ormas mahasiswa muslim itu, justru meraup uang dalam soal beginian. Mau demo, bikin proposal juga. Darimana itu segala sewa sound system? Minta bantu iuran. Lalu belum lagi katanya kegiatan pencegahan pemurtadan sampai turun ke daerah yang sebenarnya tak bedanya dengan jalan-jalan bagi mereka. Ini perangai yang sama sampai di level aparatur pemerintah. Sosialisasi anti-pemurtadan bahkan melibatkan pemkab atau pemkot, dengan dana yang dipaksa comot dari APBD atau APBK. Pertanggung-jawaban? Tak ada. Hal-hal begini berlindung di balik kedok ormas,. yayasan dan sumbangan. Coba deh, mana ada itu pertanggung-jawaban segala sumbangan sukarela? Tak ada. Ini kan sama macam orang cari uang dibalik bencana. Mungkin tidak semua, tapi ada yang begitu: Ya. :mrgreen:

      2. Atau… di sisi lain, ini bisa cari popularitas. Bukankah hal yang begini ini juga, histeria massa religius, yang mengorbitkan ustad-ustad seleb yang akhirnya bisa wara-wiri di infotainment? :lo:

        1. Bang, dana APBD/K bisa dipake buat sosialisasi anti pemurtadan? Betapa nggak wajarnya. Kalo gitu boleh juga dong teman-teman yang non-muslim minta dana ke APBD/K buat sosialisasi anti islamisasi.

          Jaman dulu pertama masuk perkumpulan mahasiswa muslim dikampus, yang dibahas udah betapa Islam tertindas aja (di belahan bumi yang lain), tendensius banget, berapi-api, janji surga, ancaman neraka, jihad, dan sebangsanya. Klasik lah pokoknya. Jadi saya nggak pernah datang lagi yang kedua dan seterusnya. Terlalu lucu soalnya ngomongin jihad di negara lain, sementara di Indonesia aja masih banyak susah hidup. Tar ada orang lain peduli sama orang susah disini, dan kebetulan agamanya bukan Islam, langsung di cap kristenisasi. Wagu.

          1. Lha ya bisa. Tergantung siapa yang megang dan di daerah mana. Haha. Memang nggak wajar itu. Meski aku sendiri muslim dan dalam skala tertentu cukup fanatik (aku tentu tak terima ada orang non-muslim masuk ke rumah dan bilang bahwa aku perlu diselamatkan. What if i told them that I am already a moslem and i am comfortable in my current religion? Also, how is it that they feel they need to save people when they dont even know the people personally? That sucks). namun soal dana negara begini aku cenderung sekuler. Sama ketidak-setujuanku pada adanya Haji Abidin: Atas biaya dinas. Tapi sebenarnya juga sama saja. Di daerah mayoritas non-muslim (CMIIW) ada juga kecenderungan serupa. Pakai dana untuk urusan agama yang mestinya personal. Ini kan soal siapa pegang apa. Depag dipegang mayoritas muslim, jadilah negara sibuk bikin anggaran untuk biaya naik haji. Susah itu diterabas. Cuma paling bisa diminimalisir.

            Jaman masuk kampus selalu begitu. Apalagi mahasiswa newbie. Saat sadar, geli sendiri. Okelah di belahan lain ada muslim tertindas, itu memang fakta. Tapi yang menggelikan itu, mereka malah nutup mata dengan muslim di negeri sendiri yang ditindas oleh PEMERINTAHAN MAYORITAS MUSLIM ini. Para petani yang ditembak aparat di Alas Tlogo, Pasuruan, bukannya non-muslim. Kasus Mesuji dan Bima juga sama. Dulu, saat di Aceh konflik, ramai warga hilang dan mati, dieksekusi TNI dan Polri CUMA karena saudaranya terlibat GAM. PKS, sebagai salah satu partai yang ngaku Islami, paling solider terhadap Palestina dan penderitaan muslim di negeri kafir-barat™ ngomong apa soal itu? Tak ada. Berapi bicara di mimbar kampus, dengan mahasiswa susupan yang ngaku dakwah tapi nyari kader. Satu orang Palestina mati ditembak Israel, ribuan massa dikerahkan mengutuk Israel di Bundaran HI. Di Aceh, ribuan orang mati dibunuh saudara senegara, tak ada yang bicara. Yang model begitu tak lebih baik dari serdadu Yahudi di Israel sana. Haha.

            1. Yang ideal itu bang (menurut opini pribadi saya ya) negara nggak ikut campur urusan agama rakyatnya. Mau rakyatnya kejawen, islam, katolik, hindu, budha, apapun itu. Dan rakyat juga idealnya nggak ikut campur urusan agama orang lain.

              Agama apapun itu, kalau ekspansif banget dan baru ngerasa besar kalau jumlah pengikutnya banyak jadi perlu ngoprek-ngoprek orang buat pindah agama, malah jadi keliatan kerdil banget. Nggak usah orang yang beda agama bang, orang seagama aja kalo di oprek2in sama orang lain yang ngerasa lebih alim juga rasanya nyebahin. Saya sendiri pernah berapa kali di cap sebagai orang yang kurang muslim oleh muslim lain, dan dulu pernah juga ada temen deket kebetulan protestan yang hampir tiap minggu di datengin temennya yang ngrasa lebih alim, dan dia di cap sebagai domba sesat yang harus di selamatkan. Itu baru dalam taraf, orang seiman yang “meddling” wilayah pribadi saya. Apalagi kalo orang beda iman yang ngurusuhi iman kita. That makes it double sucks.

              Susahnya, nggak (pernah akan) ada garis batas jelas, mana yang sudah masuk dalam kristenisasi/islamisasi, terutama dalam agama-agama samawi yang emang kecenderungannya ekspansif-kompetitif banget. Agama jadi kaya branding yang harus di promosikan di tv-tv, di jalan-jalan. Jadi kita lebih fokus sama opini pribadi kita bahwa: agama kita lebih baik dari agama lain (well, it is personal belief, dan saya nggak keberatan, dan memang sangat wajar setiap orang merasa agama-nya yang paling baik), tapi ekses-nya, jiwa bersaing makin kuat, dan jadilah banyak hal aneh bin ajaib yang akar-nya agama, dan demi agama. *apa sih ini? yaahhh gitu deh bang pokoknya hihihi

              Nah “PEMERINTAH MAYORITAS MUSLIM disini dan PEMERINTAH MAYORITAS NON-MUSLIM disana” thingy kan memang benar-benar nyata. Jadi buat para melankolis dramatis agamis di jagat raya Indonesia ini, berhentilah merasa jadi orang yang paling menderita di dunia, kalo ternyata kita sendiri masih jadi sumber penderitaan buat orang lain. Ketimbang jihad di Palestina ato Afganistan, jihad di kampung sendiri dulu aja deh, masih banyak janda-janda terlantar… eh upsss *tambah nggak jelas lagi, pokoknya gitu deh bang, :p

  3. Idealnya sih begitu. Tapi kenyataannya ya nggak. Susah memang, apalagi negara ini cukup besar dan -lebih susah lagi- bersistem kepulauan, agak sentralistis pulak. Sudahlah sentralistis dalam perkara idpoleksosbudhankam, dalam agama pun tak mau ketinggalan :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s