Dongeng absurd awal pekan


Heard of this just right over here,

Science proceeds by setting up hypothesis, ideas on models, and then attempt to disprove them, thus a scientist is constantly asking questions, being skeptical…

On the other hand:

Religion is about turning untested belief into unshakeable truth

Maka, religion apparently gets us into a labyrinth without a way in nor out. Pernah dengar tentang hukum populer dalam hubungan mesra kakak dan adik kelas? Itu lho, hukum yang (1) Abang/kakak selalu benar, adik selalu salah; dan (2) Jika abang/kakak salah maka kembali ke pasal pertama. Kesimpulannya, abang/kakak kelas tidak pernah salah.

Sekarang, ganti setiap kata abang/kakak dengan orang beragama dan adik dengan lainnya. Atau kalau mau lebih divine lagi abang/kakak bisa diganti dengan agama X dan adik bisa diganti dengan apapun yang kamu suka, bisa agama Y, Z, unofficial ones, atau bahkan tak beragama pokoknya siapa saja yang memakai different kind of skin other than yours.

Nah, sekarang kombinasikan hukum yang ajaib itu dengan semua yang ada disini, you name it: merasa paling benar dan sempurna, rasa kecewa terhadap banyak hal yang menggunung, merasa sudah digaji untuk jadi Bodyguard-nya Tuhan…blah blah blah blah blah blah. Dan jangan lupa setelah itu dikali-lipatkan (pick any number you like, but not any less than 10).

It is truly magical how that magical combination has become very powerful. Mulai dari yang ada di puncak piramida rusuh agama (you know who) sampai yang kroco-kroco yang sepertinya tidak merasa telah dijadikan tenaga tukang pukul gratisan, telah bersinergi dengan sangat baik untuk jadi polisi moral.

Berawal dari sini, di mana kita punya 2000 warga tanpa agama yang harus segera kita selamatkan agar tak dibakar di neraka jahanam. Sampai ke sini (saya nggak mau membahas tentang ke-alay-an si PNS yang mengumbar ke(tidak)yakinannya di lahan publik, yang buat saya terdengar tidak jauh beda dengan orang-orang yang mengumbar doa di Facebook, seolah-olah dia udah inbox-iboxan dengan Tuhan di situ, eh padahal kan Facebook bikinan Yahudi, pasti Tuhan kamu nggak mau bikin akun di situ).

Inilah yang kemungkinan besar akan terjadi waktu kamu (dan aku) mencampur-adukkan agama dalam institusi yang kita sepakati bersama untuk dinamai Indonesia. Banyak hal-hal yang kemudian menjadi lucu. Misalnya soal agama resmi. Berarti ada agama yang tidak resmi. Yang jadi pertanyaan, siapa yang menentukan resmi-tidaknya suatu agama? Tuhan? Wakilnya Tuhan? Eh tapi ini Tuhan yang mana? Yang kamu yakini? Kan aku nggak percaya Tuhan kamu? Masa’ aku mau dengerin apa kata Tuhan kamu?

Buahnya: kebanyakan orang sudah jadi polisi moral, mulai dari polisi beneran, camat, menteri, MUI sampai warga kebanyakan yang sebenernya hidup aja udah sulit, beramai-ramai ngusilin wilayah pribadi orang lain.

…mereka diimbau agar milih salah satu dari enam agama yang ada….

Emang milih agama bisa kaya milih sayur?

(1) Ini lho Nyah, di warung sini sayurnya cuma ada toge, kangkung, bayem, kubis, timun sama terong.

(2) Tapi saya maunya beli Pete

(1) Ya nggak bisa Nyah, pete adanya di warung sebelah. Di warung sini jualan pete dilaknat bos besar, nanti bisa-bisa dijadiin istri ke-4

(2) Ya udah deh, saya nggak jadi belanja di sini, mau muter lagi cari pete

(1) Nggak bisa gitu dong Nyah, situ kan udah masuk sini ya HARUS  beli di sini, nih pilih salah satu di antara yang 6 ini. Udah ada 6 masih kurang aja.

Iya, pete kan diharamkan.

Kita mengimbau saja. Terserah mereka mau memeluk agama apa saja, yang terpenting adalah mereka memilih sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya serta tidak ada unsur paksaan dari siapa pun

Ini namanya apa ya kalau bukan dodol: bebas dan terserah kok milih agama apa aja, yang penting harus salah satu dari yang enam ini. Di mana-mana yang namanya bebas dan terserah itu berhubungan antipati secara maknawi dengan harus dan paksaan, dan hampir mustahal dikawinkan dalam satu kalimat yang sama. Miftah, yang konon adalah anggota Komisi D DPRD Kalbar dan politisi PPP, juga bilang hal yang nggak kalah ajaib sama Juki Alie:

“Kalau tidak ada agama, mereka tidak layak jadi warga negara Indonesia,” tegasnya.

Ah, kok saya pribadi lebih suka politisi-politisi dan wakil rakyat bodoh ya yang kita anggap tidak layak jadi warga Indonesia. Ada juga seseorang yang konon sangat pakar dalam Hukum Tata Negara dari Untan (Universitas apa gituh), Turiman Faturahman, yang ternyata masih sebangsa-nya Juki, nggak mau kalah dalam hal mengeluarkan pernyataan ajaib:

Keberadaan masyarakat tanpa keyakinan mesti dapat dituntaskan. Maka ikut dibutuhkan yakni dapat tercatat secara administrasi. Supaya memudahkan langkah jika ingin mengambil kebijakan. Sehingga menyelesaikan permasalahan dapat dilakukan secara jelas,” katanya.

Yah kita lihat saja nanti, siapa tau si ahli yang pandir eh pandai ini memang benar: jika semua orang Indonesia sudah beragama resmi, maka pemerintah akan lebih bijak dalam mengatur negara. Can hardly wait for it.

Ahhh, saya mau ketawa keras-keras tapi kok rasanya pahit ya?

 

Iklan

10 pemikiran pada “Dongeng absurd awal pekan

  1. kelakuan Miftah PPP dan Kemenag kabupaten Landak Mudjazie Bermawie itu inkonstitusional dan anti pancasila, begitu menurut Musdah dari ICRP.

    @Alex, bisa dimasukin mulutpejabat.wordpress.com ga ya? Jarang-jarang tuh orang anti pancasila bisa menjabat setinggi itu…

    *emangnyaadapejaabatygsesuaipancasila?*

    1. Usul menarik, Guh. Coba kau summon Si Dnial atau Lambrtz. Lha mereka sendiri para politisi itu malah kayak tidak beragama juga. Kalau agama mereka bagus, tak akan mereka hidup mewah-megah-dan-makan-uang-negara-membabi-buta.

      1. Ada nggak ya hukum yang bisa di pake mencegah kelakuan yang inkonstitusional dan anti pancasila itu?

        Baru tau ada yang mau berbaik hati merekam kata-kata mutiara dari mulut pejabat. Saya doakan semoga langgeng blognya hehehe

        1. Lho? Kita itu sebagai warga negara yang baik mesti menjadikan pemimpin sebagai panutan. Para pejabat itu setiap mau naik kan selalu sebut diri mereka pemimpin, sebagai wakil, sebagai khalifah, amirul mukminin. Jadi sabda-sabda mereka mesti dicatat, biar mereka dapat tempat dalam sejarah. Kalau sabdanya bagus, ya di manut-miturut. Kalau tak bagus ya… dicarut-marut. Wakakakaka.

          Ikutan nulis dong kalau mau? Ntar kusuruh add deh sama adminnya. Itu kan blog keroyokan, biar republik amnesia ini nggak amnesia lagi. Ngobatin penyakit kan gak bisa sekaligus, jadi pelan-pelan saja, kecuali dibunuh. Hehe.

          1. Haha, kenapa rasanya lebih banyak yang pantas di carut-marut ya?
            Boleh banget bang, tapi saya nulisnya intermittent, kadang berair, kadang nggak. Sudah saya terima undangannya bang. Lumayan, bisa jadi ladang pahala, hihihi :p

            1. Amen. Amen. Haha.

              Tak berpahala di mata agama, berpahala di mata manusia sudah cukuplah. Berpahala di mata iblis pun tak apa-apa, karena bisa dituduh “suka mengumpulkan aib pemimpin” sendiri, seperti sabda salah satu komentator beriman di sebuah postingan. Contoh ketaatan buta berdalih agama 😆

            2. Haha, komentator beriman. Gak akan pernah menang bang kalo ngelawan orang gitu. Sabda-nya udah nggak bisa di ganggu-gugat lagi. Sedih ah membayangkan keimanan mematikan logika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s