Sudah pilih takdirmu?


Dengan pemandangan daun bunga sakura yang jatuh ditiup angin kencang sudah berapa hari ini, saya ketemu berita yang sangat menarik soal Nikita Mirzani. Nikita Mirzani? Iya, Nikita Mirzani yang terkenal di tv itu lho. Waktu saya tanya ke Dalijo, penghuni meja sebelah, jawabnya cepat, padat dan pasti: Nikita mirzani yang *piipp-nya *piiipp itu kan?

Bukan *piipp-nya yang *piipp itu yang mau dibahas, melainkan soal pengakuan selingkuh sama salah seorang artis bapak-bapak.

“Begini ya, karena jodoh, mati, karir kan di tangan Tuhan, jadi mungkin saat itu jodoh saya sama Indra,”

Jadi, si Mbak sebenarnya nggak ada niat untuk selingkuh sama artis bapak-bapak yang sudah beristri dan beranak itu. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Tuhan maunya si Mbak selingkuh sama si bapak-bapak beristri beranak yang artis itu. Tuhan memang maha kehendak dan maha mengatur ya. Nggak cuman si Mbak sekseh ini aja yang dikehendaki oleh Tuhan untuk punya ill-twisted fate. Bahkan seorang ustad kondang yang kayaknya punya rumah tangga bahagia juga dikehendaki oleh Tuhan punya takdir yang aduh-gimana-gitu. Si ustad tiba-tiba diatur oleh Tuhan untuk kawin lagi, terus istri pertama minta cerai, terus nggak berapa lama istri pertama balikan lagi. Dan ketiganya (sang ustad dan kedua istrinya) sepakat bahwa konon semua ini sudah diatur oleh Allah.

“Semua ada yang ngatur, semua ada waktunya. Allah yang atur. Mudah-mudah jadi kebaikan bagi semua. Terima kasih, yah,”

Jadi, Tuhan yang mengatur poligami sang ustad.

Kok saya jadi kasihan sama Tuhan ya, jadi kambing hitam atas hampir semua kejadian. Saya sendiri nggak bisa bilang bahwa takdir tuhan itu tidak nyata. Hmmm, sort of. Saya sendiri ngerasain banyak keajaiban yang buat saya cukup untuk meyakini keberadaan-Nya dan berterima-kasih setiap hari (ih kok sounds like Mario Teguh sih?).

BUT.

Here comes the but (with one t). Saya nggak meyakini bahwa takdir adalah sesuatu yang take it for granted begitu aja. Takdir lebih masuk akal disebut sebagai konsekuensi logis atas pilihan dan tindakan yang kita buat. Misalnya nih ya, apakah Ulil ditakdirkan oleh Tuhan untuk jadi liberal dan suatu saat darahnya akan dihalalkan oleh Munarman dan tukang pukulnya? Apakah saya ditakdirkan untuk ngefans dan mengagumi pemikiran Ulil?

Saya rasa nggak. Butuh proses membaca, berfikir dan mencari untuk menjadi Ulil yang sekarang. The very same process I took before I dare to stand my stance, to be a moslem with liberal perspective (dulu,-red.). Waktu SMP jangankan membaca tulisan Ulil, baru dengar namanya disebut saja, saya sudah berkeringat dingin, merasa semua yang berbau Ulil dan liberal adalah barang haram untuk disentuh dan dibaca, apalagi untuk dipahami. I kept myself away from those “evil-ish ideas”. Not until I dare myself to read and read, both liberal and conservative thinkings, and finally found peaceful belief in Ulil’s ideas.

Jadi apakah Tuhan sudah mentakdirkan bahwa saya akan ngefans sama Ulil dan kawan-kawannya ketika saya mencapai umur 18? Saya rasa tidak. Saya meyakini Tuhan hanya mengatur hari ini saya bertemu dengan siapa yang menawarkan kesempatan apa. Dan adalah pilihan saya untuk menerima tawaran itu atau tidak. Lalu, sebagai imbas diterima atau tidaknya tawaran kesempatan itu saya mengalami kejadian lain, yang nantinya pada titik tertentu saya akan bertemu orang lain dengan kesempatan lain dan harus membuat pilihan lain. Itulah takdir menurut saya, yang lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi logis atas pilihan dan tindakan sadar yang saya buat. Dan muncullah di pikiran saya ada kalanya God smiles watching me made mistakes and took the wrong turn or perhaps the very same God is even …proud for every great decision I made.

Jadi apakah selingkuhnya si Mbak dengan artis bapak-bapak itu takdir? Apakah poligami sang ustad adalah takdir? TIDAK menurut saya. Tuhan hanya membuat takdir ketemunya si Mbak sama si calon selingkuhannya dan sang ustad dengan si calon istri keduanya. Yang membuat si Mbak berselingkuh dan si ustad berpoligami adalah keputusan sadar mereka sendiri, walaupun misalkan sebelum memutuskan untuk berbuat mereka sudah sholat istikhara dulu. Itu semua tidak lebih dari keputusan yang mereka ambil secara sadar. Keputusan yang saya rasa membuat Tuhan senyum, tapi pait.

Jadi, bisakah takdir diubah? Bisakah kita menghindari takdir yang nggak ngenakin orang lain? You do the math.

Iklan

3 pemikiran pada “Sudah pilih takdirmu?

  1. waah, pemikiran yang menarik, saya suka ini, but, bolehkah saya juga menuangkan pemikiran saya ?

    saya rasa, konsep takdir adalah : memang Tuhan telah mengkonsep semua yang ada dalam diri kita (arti semua itu = seluruhnya. maaf, sekali lagi, SELURUHNYA), termasuk jodoh, karir, rezeki dll, but (without double t) rancangan Nya itu bagus bagus :), jadi semua yang ditakdirkanNya itu bagus, tak ada yang buruk, takdir saya adalah jadi presiden, istri saya cantik, rejeki saya lancar, anda akan jadi lebih sukses dari saya, istri anda lebih cantik, dan semua yang indah indah, ASALKAN (nah ini) anda berada pada jalurNya, karena sayangnya walaupun Tuhan memberikan takdir yang bagus bagus, Beliau lebih suka memberikan kebebasan bagi kita untuk mengikuti takdirNya atau memilih jalan kita sendiri… ini yang saya yakini

    at least, salam kenal saudara… ๐Ÿ˜€

    1. Kalau yakinnya begitu ya begitu aja, hehe

      karena menurut saya pribadi, jodoh, karir dan rejeki adalah sesuatu yang masih bisa kita perjuangkan atau kita pilih. Dan konsekuensi logis atas pilihan kita dalam hal jodoh, karir dan karir itulah yang di-anggap sebagai “takdir”.

      Beda dengan lahir dan mati yang beyond our power. Kita nggak bisa milih lahir dari orangtua yang mana dengan gen gimana, dan juga mati kapan dengan cara apa.

      Well, it’s good to be different, isn’t it? Salam kenal juga ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s