Sebelum menggebuk sambil bilang Allah Akbar, Membaca yuk!


Kalau FPI, HTI or else yang sebangsanya menebar kekerasan dan menginjak salah satu hak paling dasar yang diberikan oleh Tuhan untuk manusia dan dilindungi oleh hukum negara (which, for those who are too unintelligent and ignorant  to understand this, is hak untuk: berfikir, berpendapat dan berkumpul untuk berdiskusi) dengan main hakim sendiri (too the extent of taking someone’s life), sudah dapat digolongkan sebagai tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan merupakan bentuk kejahatan HAM, maka, can anything else be any worse than that? In fact, there IS. Hal yang baru saja dibuktikan oleh Polisi Polsek Pasar Minggu, yang telah dengan tidak masuk-akalnya membubarkan diskusi bedah buku Irshad Manji kemarin. Dengan [TIGA] alasan bodoh yang dipaparkan disini

Pertama, keberatan dari warga sekitar. Kedua keberatan dari beberapa ormas seperti FPI. Ketiga keberatan karena tidak memiliki IZIN untuk melakukan acara diskusi itu.

Painful as it is. Polisi yang di gaji dengan uang pajak rakyatnya, selain TIDAK BISA memberikan perlindungan bagi warganya, mereka juga membungkam hak rakyatnya untuk berdiskusi (yeah diskusi as in discussion, you know, they were not attacking some random old man as what an ORMAS-ISLAM-baru-pulang-Jumatan did in Solo, yang dengan indahnya diputar-balikkan disini). Dan Polisi secara langsung juga telah memberikan dukungan moril bagi ormas Islam lainnya yang menjadi penggerebek diskusi di Salihara, dengan secara spesifik menyatakan:

tidak akan memberi perlindungan keamanan jika diskusi masih  berlangsung

Well, terimakasih Pak Polisi. But sorry, I guess we did not pay you to do that to us. Sebenarnya apa sih yang sebegitu ditakutkan oleh para penyerang yang notabene ormas-ormas Islam? Karena Irshad Manji seorang feminis? Atau karena dia seorang lesbian? Pernahkah mereka melihat Irshad Manji sebagai seorang feminis yang kebetulan lesbian? Apa mereka homofobik? Okay, I know they hate liberalism so much, dan menganggap liberalisme sendiri adalah bentuk pelanggaran maha berat dengan azab neraka, dan… hey I see. Dia kan feminis, liberal, dan lesbian! That made her hit the thick negative bar. Karena Irshad Manji datang untuk menyebarkan lesbianisme,seperti yang disampaikan disini

Bila mau jadi lesbi atau gay, sendiri saja. Jangan ajak-ajak (Habib Salim Alatas, 2012)

Dan mengawinkan lesbianisme, liberalisme dan feminisme dalam satu kepala adalah three-time worse than any other regular liberalism. Jadi, ormas-ormas Islam ini sudah faham dengan sangat jelas tanpa perlu betul-betul membaca tulisan Irshad Manji bahwa ini diskusi sesat

Saya tidak dapat buku itu, yang dapat DPW. Mereka yang laporkan ajaran sesat (Habib Salim Alatas, 2012)

Dan terimakasih kepada mereka, saya jadi tertarik untuk membaca pemikiran Irshad Manji (saya nggak akan pernah dengar namanya kalau tidak terjadi ribut-ribut ini). As soon as I get up this morning, I put her two books into my cart, the one that they supposed to have the discussion over and her first one, and will have it delivered within two weeks. I promise, as soon as I finish the book, I’ll share her ideas with you in this blog (*wink). Well, off we go to a little different focus. Beberapa bulan yang lalu saya ketemu video dari LAWmotion tentang pembubaran ormas (yang dalam hal ini adalah FPI).

Dan saya rasa mereka benar, membubarkan FPI bukan jalan keluarnya. Ideologi-ideologi yang tertanam di otak anggota kroco FPI akan melahirkan ormas baru yang sama dengan nama berbeda setelah (misalnya) FPI berhasil dibubarkan secara hukum. Lalu, apakah memberi pekerjaan dengan gaji yang layak untuk hidup nyaman bagi anggota kroco FPI akan menjadi solusi yang tepat? Na-ah, mungkin tidak, karena dua alasan ini: (1) ideologi tersebut bukan mereka peroleh sendiri melainkan ditanam oleh habib-habib/guru-guru mereka yang terkadang juga dapat titipan bersifat politis dan/atau ekonomis, dan (2) mereka tidak peduli dengan kesejahteraan hidup di bumi, karena the afterlife is what really counts. Disisi lain, kenyataan bahwa sikap-sikap intolerant dan ignorant yang berbasis sentimen keagamaan sudah menjangkiti kaum intelektual yang sejahtera dan (seharusnya) cerdas dan mau membaca, juga menjelaskan bahwa jangkauan ideologi beragama yang dogmatis, paling benar sendiri dan anti dialog bukan hanya berkembang di kalangan kroco FPI dan ormas Islam sebangsanya. Fakta ini sekali lagi mengugurkan pendekatan ekonomis (S. Ahmad, 2012—> well yang ini temen papanya tole, bukan habib dari negeri antah berantah). Ideologi beragama seperti inilah yang pada titik tertentu telah membuat orang menjadi yakin bahwa mereka (at least) 1 level lebih tinggi dibanding orang lain dengan ideologi yang berbeda, dan karenanya berhak menjadi hakim, atau minimal wasit. Jadi dimana solusi-nya? Yo mbuh yo. Saya juga nggak tau, dan hampir bosan berharap. Berharap kepada Tuhan, belum pernah dijawab sampai sekarang. Berharap pada pemerintah yang dipimpin Pak Gendut? Oh come on, not in a million years. Berharap pada semesta? Dan saya setuju dengan pendapat S. Ahmad (2012, lagi): bahwa mungkin solusi masalah ini bisa diawali dengan budaya membaca. Membaca. Membaca. Bahkan sekalipun itu bacaaan yang diluar air liur kita dan diluar batas logika kita (untuk kasus saya, sudah di coba dengan baca tulisan-tulisan di situs-situs pengajian salafi dan sebangsanya, atau berita-berita arrahmah yang katanya filter your mind get the truth, walau adanya cuma filtering without truth, atau voa-i yang katanya voice of the truth tapi turns out to be a voice of hoaxes , atau yang paling mild berita-berita republika). Siapa tahu, jika mereka-mereka yang selalu penuh amarah dan rasa benci mulai menantang diri mereka sendiri untuk banyak membaca bukan hanya buku/tulisan yang sepaham dengan mereka, maka mereka mulai bisa membuka hati, at least untuk berdiskusi dengan damai. Ah yo mbuh yo. Mengurangi kesenangan golden week aja. *Eh tapinya masih inget kan sama berita yang ini? Not more than dogs huh?

Iklan

4 pemikiran pada “Sebelum menggebuk sambil bilang Allah Akbar, Membaca yuk!

  1. Kodratnya domba ya manut kata gembala, tanpa banyak berpikir…

    Mengkritisi dan memaki domba jelas tak berguna. Idealnya ya menyadarkan para gembala, owner dan para investor agar memperalat gembalaannya hanya untuk aksi yang baik-baik. Tapi pasti sulit ya? Demi kekuasaan dan uang, orang cenderung rela mengorbankan segalanya.

    Kegiatan membaca memang bisa mengupgrade domba menjadi gembala… Atau paling tidak bisa memberdaya domba agar mampu berpikir kritis dan bisa menolak jika diperalat untuk kerusakan. Asal yang dibaca tidak sebatas konten indoktrinasi macam situs-situs tersebut diatas :))

    Selain membaca ada lagi ga ya?

    1. Sebenarnya nggak ada ruginya sih jadi domba yang pandai dan kritis (yang rugi gembala, owner dan investornya)
      Dan agak pesimis juga gembala dan rantai penguasa-nya bisa disadarkan, karena jelas mereka butuh kekuatan massa yang bisa di setir untuk pertahankan kekuasaan dan uang. Shitty bussiness memang.

      Menumbuhkan minat membaca dikalangan domba sendiri sudah jelas banyak kendalanya, karena (1) bukan budaya domba, (2) pilihan bacaan yang sangat resticted kepada yang di-halal-kan oleh gembala, dan yang paling klasik tapi ampuh ala penguasa agama (3) haram hukumnya menafsirkan suatu bacaan sendiri, penafsiran harus diserahkan kepada orang yang betul-betul “divine”

      *Hey waktu saya bales komennya Guh, kok saya jadi pesimis ya soal membaca ini? Can’t think of any better ideas so far

      1. Padahal “iqro” itu adalah perintah pertama ya, pastinya karena paling penting.

        Sayang, kegiatan iqro yang mestinya dapat menciptakan generasi yang berwawasan dan kritis, dengan mudah dipelintir jadi kegiatan indoktrinasi dan brainwash… cukup dengan sensor dan pembatasan dalam pa yang di ‘iqro’.

        eh.. atau… jangan-jangan memang sejak awal tujuannya itu? Jadi perintah iqro memang sedari awal cuma pencitraan, biar kesannya mendukung kebebasan berliteratur dan pro wawasan luas, padahal cuma ajang indoktrinasi? hoho… *busukSangke*

      2. Hohoho, busuksangke yang patut dicurigai kebenarannya. Karena kalau perintah iqro sudah dijalankan dengan benar dan baik (oleh kawanan domba terutama), maka kegiatan indoktrinasi tidak akan berjalan semulus yang sekarang. Nanti baru dikasih satu ayat, domba-nya udah mengembek 10 kali dengan penuh tanda tanya kan gawat (gawat buat para gembala dkk-nya).

        *nanti kalok para domba betina dengan alasan kesetaraan gender mulai mempertanyakan 72 perjaka tingting di surga kan gawat, owner dan investor bisa rugi bandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s