Going Anonymous


Pertama kalinya dulu sih kepengen punya blog biar berasa keren.

It takes time for me to see that writing (in a blog with no commercial value) is much more than just being cool. It is enjoyable as well. This place, somehow, has almost become the only space for me to be publicly true to myself.

Almost.

Iya, seandainya saja nama saya yang (tadinya) terpampang di alamat blog ini bisa di hapus.

Bisa kok!

Tadinya mau di ganti jadi Gaea atau Gaia, goddess of the earth to the Greeks. Nama yang saya ajukan ke pacar untuk calon anak kami yang perempuan nantinya. Gaea Sumthin-sumthin Nugroho sounds great di kuping saya. Apalagi kalau sumthin-sumthin-nya di isi dengan nama Jawa. (Ahhhh Pacar! Kapan kita kawin?) *getyourselfapukebag”.

Tapi sialnya dua-duanya sudah ada yang pakai, walaupun post yang tersisa sejak tahun 2005 silam judulnya masih “Hello World!”. Ahhh ya sudahlah. I won’t bother to do something just for this. Then I finally came up with this ga-jelas-name.

Lalu, kenapa tiba-tiba harus jadi anonymous?

It is simply because I have no faith in the society I have been and will be involved with. Pemikiran saya yang nggak-agamis dan kadang terlihat mengecilkan religius fanatics mungkin membuat tidak nyaman orang-orang yang sudah dan akan ada dalam lingkaran saya. Or perhaps, I am just a coward. Saya merasa takut dengan reaksi lingkungan kerja saya (nantinya) terhadap pilihan-pilihan hidup dan pendapat-pendapat soal hidup yang liar berlarian di otak saya. Ada ketakutan, pekerjaan impian saya akan hilang jika mereka tahu betapa saya menerima bahwa (misalnya), saya menganggap ada baiknya bundelan suci lebih tepat jika dipahami secara kontekstual ketimbang tekstual, atau misalnya saya tidak menganggap bahwa Gus Dur kafir hanya karena menerima penghargaan dari Yahudi (saya males browsing cari link-nya nih, ketimbang habis nemu link-nya malah jadi bad mood), dan sebangsanya.

Saya kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan yang saya (sudah & akan) terlibat di dalamnya. Saya ragu, bahwa saya akan dinilai secara fair dari kemampuan saya atau dari kemauan saya, tapi justru dari pemikiran saya yang bisa jadi tidak banyak yang mengamini. Pada titik tertentu saya kuatir, perspektif saya dalam hal keber-agama-an akan “diserang”. Simply because we are Indonesian. Karena kita ada di negara yang mengartikan agama sebagai sumber kedamaian sambil menghakimi (–atau mengacungkan tinju to some extent kepada–) orang lain yang berbeda.

Karenanya saya memutuskan untuk jadi anonimus saja. Agar pikiran saya tetap bebas selamanya dan tulisan saya akan tetap bebas selamanya. Jika nanti datang waktunya saya tidak pengecut lagi, saya pasti akan berhenti menjadi si tanpa-nama.

Doakan saya ya 😀

P.S. Bukunya Irshad Manji sudah datang. Dua-duanya. Saya agak kesulitan untuk menyelesaikan keduanya dalam waktu dekat, karena sedang banyak sekali pekerjaan. Tapi jangan kuatir, saya nggak lupa janji saya kok.

yosh ikuzooo !!
Iklan

Satu pemikiran pada “Going Anonymous

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s