Not a bad idea #1: Secularism


Hello there!

Ada satu bohlam di kepala saya yang tiba-tiba menyala pagi ini. Saking terangnya, sampai saya merelakan waktu tidur setelah sahur yang sakral untuk menulis. NOT a bad idea series, I would like to call it. Seri tulisan (finger crossed) yang akan saya hadirkan untuk membantu Indonesia berfikir. Ada tiga alasan kuat yang membantu saya mengeluarkan ide spektakuler ini: (1) Indonesia’s mid-life crisis di ulang tahunnya yang ke 67, yang ditandai dengan makin banyak pejabat dan rakyat labil, (2) banyaknya tulisan unpublished, yang setelah dilihat-lihat isinya kebanyakan mengeluh, pesimis akut dengan negara ini, dan (3) saya terlanjur menyalakan AC, dan haram rasanya buang-buang energi hanya untuk menemani bobok.

Okay, I know, cuma dua alasan pertama yang bisa diterima.

Anyway, untuk episode pertama, saya mau promosikan secularism. Satu kata yang banyak ditakuti oleh Pak Ustadz dan pengikutnya di Indonesia. Quite some times ago, I came across this great channel, packed with great stuffs, and secularism is one of its topics. Enjoyed the video, then this AHA moment encourages me to jot it down.

Seru kan?

Biar lebih nyambung, kita ganti Christians di UK dengan Muslims di Indonesia. Surprisingly, it fits beautifully, except for one thing: the fact that here in Indonesia, majority really means majority.

Dua prinsip utama sekularisme adalah:

  1. Memisahkan agama-agama dari negara, yang berarti memberikan ruang sebebasnya bagi mereka yang beragama (apapun) untuk menjalankan agamanya tanpa harus membebani mereka yang beragama lain atau sekalipun yang memilih untuk tidak beragama, dan juga memberikan ruang yang sama bebasnya bagi mereka yang non-religion untuk terbebas dari segala praktik keagamaan.
  2. Equality di depan hukum, sehingga: (i) tidak ada privilege/penalty bagi mereka yang memilih untuk beragama (apapun) atau tidak beragama, (ii) tidak ada agama yang secara khusus dilindungi dari kritik, dan (iii) religious inequality yang biasanya kuat dalam agama-agama tertentu tidak berlaku dalam konteks bermasyarakat yang lebih luas.

Singkat cerita, sekularisme menjamin hak paling dasar setiap individu, baik itu theists maupun atheists, religious atheists atau non-religious theists. Everybody is happy. Bayangkan, negara misalnya tidak lagi mendukung anggapan dimasyarakat bahwa Ahmadiyah adalah kaum sesat yang perlu di luruskan. Atau yang lebih indah, negara melindungi hak-hak warganya untuk berkeyakinan apapun itu, mau Ahmadiyah, mau penghayat kepercayaan, atau sekalipun percaya tidak ada Tuhan. Akar dari sekularisme dalam bernegara adalah mencegah  penguasa menggunakan kutipan-kutipan tendensius dalam agamanya untuk menekan non-agamanya. Everybody should be happy.

Sounds fair enough for any individual, doesn’t it?

Tapi kenapa Pak Ustadz kita dan pengikutnya paling anti ya dengan sekularisme? Bukannya dengan sekularisme negara akan menjamin kebebasan Pak Ustad dan pengikutnya untuk menjalankan apapun yang mereka yakini?

Nah itu dia masalahnya. “Apapun yang diyakini” Pak Ustadz sepertinya agak sulit untuk diakomodasi negara yang sekuler. Misalnya, negara yang sekuler tidak akan melarang aliran sesat yang dianggap menghina agamanya Pak Ustadz. Kegiatan yang tidak berbau agamanya Pak Ustadz, tidak bisa lagi di cegah. Dengan kata lain, Pak Ustadz justru perlu kekuatan penguasa negara untuk melanggengkan paham mayoritasnya. Atau malah sudah terbalik? Penguasa memanfaatkan paham mayoritas untuk melanggengkan kekuasaannya?

OK. Masalahnya sudah lebih kompleks sekarang. Dari sisi kita yang mayoritas, warga sudah menjadi religius fanatics berkat ajaran Pak Ustadz yang juga religius fanatics, dan penguasa yang perlu pendukung tahu betul caranya menyenangkan sekaligus memanfaatkan Pak Ustadz dan pengikutnya. Dan Pak Ustadz juga senang berhubungan dengan penguasa karena dakwah bisa semakin kencang dan masalah keuangan (Alhamdulillah) terjamin. Kalau sudah begini, harus diakui agak sulit untuk mewujudkan negara yang sekuler. Pada titik ini, hanya ada dua hal yang terpikir

  • Grab the ustadzs. Potong tali yang menghubungkan Pak Ustadz dan penguasa, dengan menjelaskan ada kemungkinan kita bisa mencipatakan surga dunia yang damai. Kelemahan cara ini adalah, kita tidak bisa menghadirkan 72 perawan untuk masing-masing individu seperti pada surga setelah mati yang dijanjikan oleh Tuhan-nya Pak Ustadz. Sepertinya cara ini akan gagal (bahkan) sebelum dicoba.
  • Grab the ustadzs’ followers. Kita masih akan menghadapi permasalahan angka 72 disini, karena kebanyakan pengikut Pak Ustadz juga mengharapkan kehidupan bahagia setelah mati. Tapi ada celah kecil disana. Celah itu namanya critical thinking. Masih ada harapan!

Critical thinking sepertinya bisa jadi topik Not a bad idea #2. Tapi bukan hari ini ya, saya ngantuk.

Anyway, selamat ulang tahun Indonesia, semoga kamu bertahan di zaman yang makin edan ini. Bantu saya bantu kamu ya!

P.S. Oiya, credit goes to +teguh prasetyo, yang bikin saya inget pernah nongton video soal sekularisme di yutub

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s