Puzzling Indonesians


Dalam rangka memahami lagi apa yang terjadi Mei 1998, saya menyempatkan googling dengan keyword terkait. Mumpung google masih belum diblokir oleh Bapak Tifatul Sembiring, Menkominfo kita yang sangat suci dan berhati mulia (dilihat dari itikad baiknya untuk mengusahakan seluruh masyarakat Indonesia masuk surga).

Mei 1998, saya masih SMP, di kota kecil di Kalimantan. Saya dengar berita, tapi juga masih gagal paham. Masih tidak sepenuhnya mengerti. Dan semua berlalu. Setelah 16 tahun, setelah memiliki kemampuan riset yang mendingan, baca sana-sini, ternyata saya masih gagal paham.

Lepas dari siapa jendral dalang di balik sejarah: hal-hal mengerikan benar-benar terjadi. Kerusuhan, penjarahan, pemerkosaan, pembakaran, penembakan. Laporan saksi banyak menyebutkan, semua aksi diawali oleh provokasi, yang dicurigai di bawah perintah jenderal siapa itu namanya.

Tetapi, pembelaan itu sia-sia, karena jelas: pelakunya, ya kita juga. Wajah-wajah yang sama yang kita lihat setiap hari di cermin. Wajah-wajah yang sama yang kadar kesalehannya tinggi.

Among them, I saw my father’s employees, people who were happily playing with me as a kid, carrying our belongings…

Menarik sebenarnya, kita yang sangat religius, memuja Tuhan mati-matian, justru kehilangan common sense. Tidak perlu sekolah tinggi, tidak perlu naik haji lima kali, tidak perlu uang milyaran untuk punya common sense. Memerkosa, membunuh, apapun alasannya sudah jelas tidak berperikemanusiaan. Kenapa justru kita yang merasa ramah dan sangat saleh mudah diprovokasi dan cepat lupa, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak?

1998 juga bukan titik akhir kegagalan kita memahami common sense. Setelah itu masih banyak kejadian yang membuktikan bahwa religiusitas kita tidak ada manfaatnya. Cikeusik. Sampang, Poso. Fulan dari kampung A rebutan gadis dengan Jaka dari kampung B, bisa berujung kerusuhan antara kampung A dan kampung B. Kita-kita ini jadi massa pasif yang bisa berubah jadi massa aktif dalam hitungan detik.

 

Lalu apa lagi selanjutnya? Siapa lagi korban selanjutnya? Dari  suku mana? Dari agama apa? Dari komunitas apa lagi?

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s