#3Komedireligi. Standar ganda: mabuk jamur teletong atau mabuk anggur merah?


Buat saya suatu keajaiban, bagaimana fundamentalis Islam (dan agama lainnya) mampu mengakomodir dua hal yang sangat berlawanan secara bersamaan dalam waktu yang sama, dan di kepala yang sama.

Misalnya, bagaimana ukhti-ukhti HTI dan PKS ikut panas-panasan untuk menyampaikan aspirasi mereka yang isinya mengharamkan demokrasi dan menilai sistem khilafah dengan syariah Islam lebih cocok diterapkan di Indonesia (dan di seluruh dunia kalau bisa). Ironinya, mbak-mbak ini punya hak untuk berorasi di tempat umum juga thanks to the so called “demokrasi orang kafir”. Kalau kita menerapkan sistem khilafah, syariah secara kaffah di Indonesia, maka tugas mereka adalah menjaga rumah bersama tiga istri lainnya, dan belasan anak dari seorang pria yang sama. Entah mereka promosi khilafah dengan kesadaran penuh bentuk masa depan yang mereka idealkan, atau bisa jadi mabuk jamur e`ek sapi berjamaah?

Atau contoh jamak lainya, mereka yang benci mati-matian terhadap sains, karena dianggap bias dan disetir oleh sekularis dan/atau atheist, menolak mati-matian fakta bahwa bumi berumur 4.5 milyar tahun. Padahal segudang pendukung berupa bukti ilmiah sudah ditampilkan dengan sangat sistematis. Mereka gagal paham bahwa teori ilmiah diterima sebagai suatu konsensus yang mainstream setelah melalui proses panjang yang melibatkan observasi, percobaan, peer-review, teori jatuh, observasi, percobaan, peer-review teori bangun, dan seterusnya. Sampai teori tersebut tidak terbantahkan lagi. Ironinya, mereka yang gagal paham lebih memilih percaya ayat suci yang dengan ajaib datang dari bisikan langit bahwa bumi berumur baru 6000 tahun. Halo, saya ngomongin semua agama loh ini.

Yang lebih lucu lagi, saat agama x, misalnya, menertawakan agama y yang meyakini Tuhan adalah corgi gendut berpelampung yang tinggal di planet uranus, sementara mereka sendiri percaya bahwa Tuhan berupa space-pug berpiyama yang diputari oleh matahari dan sesekali liburan di pluto.

Okay-okay, I know I am an ass to the “mabuk agama” guys.

My point is enjoy and keep your religion to yourself.

Beragama itu sesuatu yang sangat subjektif. Titik. Itu faktanya.

Basic beragama adalah percaya tanpa melihat. Kebanyakan mereka yang beragama sungguh-sungguh memiliki pengalaman spiritual yang sangat pribadi. Yang mampu mengalahkan tawaran pindah agama dengan iming-iming Indomie satu truk.

Tapi kok saya jadi ngelantur dakwah nggak jelas ya.

Sebenarnya, tadi mau sharing dua video dari Mesir.

Video satu bertanggal 2 Mei 2013.

Sedangkan video yang kedua bertanggal 18 Mei 2014.

Sudah nonton kan?

Nah, buat saya, si mbak host yang cantik pretty much menggambarkan muslim Indonesia (dan dunia) pada umumnya. Mbaknya punya feature seragam, yang umum dijumpai: standar ganda.

Di video pertama, si Mbak tampak sangat kritis, dan merasa direndahkan dengan paksaan memakai jilbab. Si Mbak tampak sangat developed dan modern, mengkritisi pelecehan seksual yang dilakukan oleh si tamu dalam suatu ritual pengusiran setan.

Dan ironisnya, di video kedua, si Mbak justru bersifat layaknya bapak tamu yang ada di video pertama. Si mbak tidak bisa menerima pemikiran tamu kedua yang menemukan jalan keluarnya dari agama. Si Mbak host menjadi marah saat si tamu kedua menyampaikan keyakinannya bahwa, singkatnya, agama adalah mitos belaka. Things got ugly saat si Mbak host menyampaikan cita-citanya agar syariat Islam diterapkan di seluruh dunia, termasuk hukum potong tangan bagi pencuri, dan rajam batu bagi adulteress (wanita terlibat perselingkuhan) sementara tidak disebutkan adulterer (prianya).

Ada keraguan akan keaslian acara ini. Bisa jadi ini acara macam hipnotis Uya-kuya di televisi. Yang hampir bisa dipastikan: ini bukan video rekayasa buatan Wahyudi dan Rhemason.

Tapi, apa yang ditampilkan dan diributkan adalah nyata. Hal yang sangat umum dijumpai di Indonesia. Kemampuan para hipokrit untuk mengakomodasi standar ganda-lah yang memberi peluang mereka yang “mabuk agama” untuk dengan mudahnya menghakimi dan melarang-larang orang yang berbeda “mabuknya” dari mereka. Karena mereka gagal paham, mabuk jamur e’ek sapi juga sama mabuknya gara-gara minum Topi Miring.

Di saat otoritas mandul dan tidak bisa berbuat apa-apa, maka yang dibutuhkan adalah kesadaran para pemabuk, untuk saling menghormati pemabuk lainnya. Toh sama-sama mabuk ini, kenapa mesti saling meributkan tetangganya mabuk apa sih?

Yo ra dab? 

*Btw, kita semua setuju sama satu hal ya, Mbak host nya bukanlah interviewer yang baik. Rada mirip mbak-mbak di TVOon yes?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s