“Prabowo emang bener keleuussss.”


Kata ABG ibukota di pertengahan 2014.

Aneh sebenarnya kalau orang-orang ramai meributkan berita disini.

Screen Shot 2014-06-11 at 6.45.14 PM

 

Karena pada kenyataannya, memang kebodohan menjadi salah satu beban utama bangsa kita. Yang bodoh siapa? Ya kita-kita juga.

Kalau rakyat cerdas, maka dari awal Pak Jefferson Rumajar yang sudah menjadi tersangka korupsi 19 M tidak akan terpilih lagi pada tahun 2010. Dan Pak Gamawan Fauzi juga seharusnya tanggap dengan mambatalkan pelantikan dan tidak perlu lagi repot-repot berfikir harus dilantik di penjara atau bagaimana.

“Kalau pun tidak diberi izin kan hanya masalah tempat. Pelaksanaan pelantikan setelah rapat paripurna DPRD, bisa saja di kantor Kementerian Dalam Negeri, bisa juga ditempat lain yang ada di Jakarta, bisa juga di daerah [penjara] itu. Yang penting masih di Jakarta, dan saya harapkan KPK mengeluarkan izin, “ kata Gamawan.

Kalau rakyat pintar, maka Pak Aceng Fikri tidak seharusnya lolos pemilihan legislatif 2014 dan menjadi anggota DPR-RI. Bravo rakyat Ja-Bar!

Sayang sekali, rakyat Ja-Teng sudah sedikit lebih ok karena berhasil menggagalkan Mbak Angel Lelga. Puk-puk Mbak Angel yang sudah rela bersusah payah jualan koleksi tas Hermes-nya demi pemilihan legislatif.

Kalau rakyat pintar, maka tidak lagi melihat atribut luar (agama, suku, dan masalah-masalah personal) sesorang untuk pemilihan apapun.

Lucu, kalau memilih Jokowi karena prabowo tidak punya istri dan dikabarkan dikebiri. You don’t need a titit to be a good president. Dan sebaliknya, lucu juga kalau pilih Prabowo karena Jokowi dikabarkan Cina, non-muslim, dan cungkring. Apa salahnya jadi Cina dan non-muslim kalau memang berkualitas? Belum lagi ternyata Jokowi bukan Cina dan bukan non muslim. Dan maaf, chubby is never a requirement for a president.

Jadi kesimpulannya, Prabowo memang benar. Rakyat Indonistan bodoh dan naif bukan isapan jempol belaka.

Bukti yang paling mencrong-mencrong: bagaimana mungkin memilih pro prabowo yang keterkaitannya dengan beberapa masalah HAM sudah menjadi berita dari zaman dulu? Diperintah atau memerintah, keterlibatannya sudah dibuktikan dengan DKP. Kalau keberatan dan merasa difitnah, dibuka saja lagi proses hukumnya yang tidak pernah terjadi karena ada pengaruh Eyang Suharto. Mari kita beri kesempatan hukum kita yang masih lumayan payah untuk membuktikan bahwa kita tidak sebiadab itu. Mumpung Pakde Wowo belum punya kekuasaan yang lebih besar dari jadi ketua HKTI. Mumpung Pakde Wowo belum punay kuasa untuk mengubur lebih dalam lagi dosa masa lalunya. Mari buktikan bersama rakyat.

Titik.

Bagaimana mungkin memilih Pakde Wowo yang tanpa konstipasi pun jejak suram masa lalunya ngablah-ngablah di dunia nyata, dan lebih memilih percaya bahwa maju-nya Jokowi adalah hasil konstipasi Wahyudi, Nazril dan Rika?

Bagaimana mungkin manusia sehat yang cerdas memilih mengindahkan bukti nyata dan lebih percaya teori-teori angan-angan ala novel KGB vs. CIA, yang tidak bisa dibuktikan?

Yo ra dab?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s