Prabowo, sang juru selamat Indonesia


Saya menuliskan entry ini sambil “menyilangkan jari”, berharap apa yang saya takutkan cuma imajinasi buruk saja. Tidak akan jadi kenyataan.

Setelah 9 Juli, saya pikir drama pilpres, yang menguras pikiran dan tenaga (bahkan) rakyat kecil semacam kita, akan segera berakhir.

Tapi ternyata, kita memasuki season kedua.

Terus terang saja, darah saya mendidih melihat klaim tim Prabowo-Hatta di TvOon. Bukan, bukan karena saya takut Jokowi-JK kalah. Saya sudah menyiapkan mental jika memang hasil quick count menunjukkan pasangan yang saya dukung kalah. Saya dan pacar, ketar-ketir seharian mengamati quick count oleh RRI yang dilaporkan di situs Antara. Kami berusaha menyiapkan mental, jika memang Jokowi kalah.

Dan tentu saja, setelah data masuk mencapai diatas 70%, kami merasa lega. Cross-check ke CSIS, SMRC, dan Kompas juga sudah dilakukan. Kami menjadi optimis, harapan yang kami titipkan ke Jokowi ada peluang besar bisa tercapai. Sudah jelas, Jokowi sudah terpilih secara demokratis sebagai presiden RI 2014-2019.

Tapi, begitu Prabowo mengumumkan klaim mereka, semuanya jadi suram. Kalau banyak orang berpendapat, Prabowo terlihat seperti kaisar telanjang akibat bisikan-bisikan orang di sekitarnya, saya justru berpendapat, they are working on their plan B, or even their plan A, the original plan.

Apa yang dilakukan oleh kubu Prabowo membuat semuanya menjadi sulit. Bukan bagi kubu Jokowi, melainkan buat Rakyat Indonesia. Rakyat di kelas bawah seperti saya, dan kamu.

Dengan ngotot berpegang pada hasil “Quick Qount” mereka, anything could happen between July 9-July 22. Their most possible last resort would be playing with KPU. Kalau sudah begini, akan ada dua kemungkinan konsekuensi

  1. Jika hasil KPU ternyata berbeda jauh dari hasil Quick Count yang sudah sesuai dengan kaidah statistik, berarti jelas kubu Prabowo memang bermain di KPU. Karena satu-satunya cara adalah menggelembungkan suara agar sesuai dengan harapan kubu mereka. Tentu kubu Jokowi tidak menerima begitu saja
  2. Jika KPU jujur dan menunjukkan hasil yang kurang-lebih sama dengan hasil Quick Count yang sudah sesuai dengan hasil statistik, maka Jokowi menang, dan Prabowo masih tidak bisa terima kekalahan.

Skenario manapun yang terjadi, provokasi kecil saja bisa menimbulkan kerusuhan di akar rumput. Jika yang terjadi skenario (1), maka sudah pasti tim Jokowi akan membawa permasalahan ke MK, dan yang harus mereka persiapkan adalah bukti pendukung yang kuat. Skenario (2) juga bisa diMK-kan oleh kubu Prabowo, jika Prabowo masih tidak bisa membendung mimpinya untuk jadi presiden Indonesia periode 2014-2019.

Tetapi, whichever way we go, potensi rusuh di akar rumput cukup besar.

Hal inilah yang membuat darah saya mendidih marah. Kecewa sekali terhadap Prabowo yang rela mengorbankan rakyat Indonesia demi kekuasaan yang–saat ini dia sudah tau betul–tidak bisa dimenangkannya di tahun ini. That is just beyond pathetic. Jargon-jargonnya yang ultranasionalis memang ternyata cuma sebatas jargon. Menjijikkan buat saya, kalau Prabowo rela mengobarkan perpecahan di kelas bawah rakyatnya hanya untuk duduk di kursi presiden untuk 5 tahun.

Makanya, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berkepala dingin, lebih pintar dan bijak menilai data/informasi, dan bersedia menerima kenyataan walaupun pahit. Dan yang paling penting: bersedia angkat topi untuk yang menang.

Selain ini, kita juga perlu untuk memastikan:

  • Presiden SBY yang tidak memihak dan memastikan semua berjalan jujur,
  • KPU yang tidak diintervensi oleh siapapun dengan uang berapapun,
  • rakyat harus berkepala dingin, tapi juga terus mengawal suara sampai resmi diumumkan oleh KPU nanti
  • Prabowo yang lebih legowo menerima kenyataan walaupun sepahit kulit manggis

Jika dalam kampanyenya Prabowo selalu berteriak bahwa dialah satu-satunya yang sanggup menyelamatkan Indonesia, maka inilah satu-satunya kesempatan Prabowo untuk mewujudkan cita-citanya menjadi juru selamat Indonesia: dengan berjiwa ksatria mengakui kekalahan.

Ditengah perasaaan campur aduk terhadap Prabowo dan orang di sekitarnya, saya masih punya harapan kepada kekuatan rakyat. Kekuatan Kita. I really do hope, the universe is with us.

.

.

.

Catatan tambahan minor: Sebenarnya, solusi paling ultimate adalah pendidikan statistik dasar yang benar untuk seluruh rakyat Indonesia. Tapi solusi ini butuh waktu yang lama. Istilahnya, keburu pemilu 2019 juga belum tentu kelihatan hasilnya. Seorang kawan saya, dokter lulusan salah satu universitas terbaik di Indonesia, bahkan gagal paham dasar-dasar statistik yang dipakai untuk quick count. Hanya karena bias terhadap pilihan dukungannya. Dan dia tidak sendiri. Marilah kita berhenti meludahi muka kita sendiri, dengan hal-hal yang konyol.

 

 

 

Iklan

5 pemikiran pada “Prabowo, sang juru selamat Indonesia

  1. Orang sadar menyebut orang gila”GILA”,sebaliknya orang Gila menyebut orang Sadar GILA.tapi yang pasti ada i yang benar Sadar,dan ada 1 yang benar Gila,Kubu Joko sebelum hasil QC 100% sudah duluan Menyatakan kemenangan nya,jauh hari sebelum pilpres sudah berkata Bahwa hanya kecurangan yang akan mengalahkan mereka,apa PENULIS tidak Tau,DASAR PENULIS JUGA ANJING

    1. Mas, saya sarankan untuk memahami ilmu dasar statistik terlebih dahulu. Soal metodologi, distribusi dan keterwakilan sample, margin of error, dll. Kubu Jokowi memberikan deklarasi kemenangan saat data masuk sudah mencapai diatas 70%, yang berarti data sudah mulai stabil. Kalau kita memahami statistika, maka kita tahu Jokowi sudah menang. Saya juga yakin, Prabowo sudah paham betul dia sudah kalah. Kalau Prabowo dinyatakan menang pada tanggal 22 Juli nanti, berarti bisa dipastikan ada permainan selama penghitungan suara berjenjang oleh KPU. Dan ini sudah terbukti dengan banyaknya C1 yang aneh (bisa dilihat di http://c1yanganeh.tumblr.com/ ). Dan laporan semacam ini terus ditemukan oleh para relawan. Padahal baru tahap penghitungan suara yang awal. Kecurangan sistematik macam inilah yang bisa memenangkan Prabowo.

      Keraguan Prabowo dan pendukungnya (termasuk anda) terhadap hasil quick count yang memenangkan Jokowi, sebenarnya bisa diselesaikan kalau semua lembaga survey (termasuk yang memenangkan Prabowo) berani memaparkan metodologi dan samplenya, dan bersedia diaudit. Dan sayangnya, seperti kita ketahui, lembaga survey yang memenangkan Prabowo justru yang menolak ide ini.

      By the way, makasih lho Mas. Saya memang suka sekali anjing. Dan sama sekali tidak keberatan dipanggil anjing, hehe

      Salam

  2. Mas, menurut saya, justru jagoan kita yg punya misi bias dibalik deklarasi berdasarkan qc kemarin. Jangan lupa akar utama pemilu, qc hanya bumbu manis pemilu, bukan hasil resmi. Om wowo tak akan bisa selamatkan Indonesia kalau rakyatnya konyol seperti ini.
    Sudah hampir 5 tahun saya berdiri di barisan terdepan garda Pak Jokowi (pilgub), dengan kejadian ini, saya belajar mentafsirkan kebusukan2 team saya sendiri. Cermat lah mas, ketua tim relawan saya pernah berkata, kalau pak Jokowi kalah, seranglah pak Jokowi dan perbesarlah isu agar publik tahu kalau pak Jokowi selalu difitnah.
    Maaf teman2ku relawan Jokowi-JK, mudah-mudahan ini dapat mengembalikan rasionalitas kita yg secara tidak sadar telah kita gadaikan demi kemenangan.
    Jokowi for presiden, PDIP,Megawati,Cukong2 jahanam go to hell! #salam2jari

    1. To be honest, I don’t fully understand what you want to say with your comment.

      Jangan lupa akar utama pemilu, qc hanya bumbu manis pemilu, bukan hasil resmi

      Quick count bukan bumbu manis pemilu. Quick count adalah salah satu cara yang jika dilakukan dengan metode dan sample yang benar bisa menggambarkan hasil akhir pemilihan umum, dengan tingkat kepercayaan yang tinggi/error kecil. Sample berpengaruh terhadap hasil. Sample bias tentu hasilnya akan bias. Mereka yang melakukan quick count adalah peneliti yang harusnya tunduk pada kaidah-kaidah ilmiah. Peneliti boleh bias pro si A atau B, tapi yang harus diingat, ujung-ujungnya mereka harus tunduk pada kaidah keilmuan, dan data yang dihasilkan. Kalau anda mau mengedepankan rasionalitas bisa kok menilai mana hasil quick count yang lebih valid. Menurut saya, waktu itu kubu Jokowi deklarasi atau tidak, tetap jadinya begini kok, karena sejak awal, Prabowo juga sudah ngotot dengan quick countnya di tvone: deklarasi cuma masalah siapa yang duluan. Either way, indikasi kalau ada quick count tandingan untuk menggiring/mengaburkan opini sangat kuat.

      Sudah hampir 5 tahun saya berdiri di barisan terdepan garda Pak Jokowi (pilgub), dengan kejadian ini, saya belajar mentafsirkan kebusukan2 team saya sendiri. Cermat lah mas, ketua tim relawan saya pernah berkata, kalau pak Jokowi kalah, seranglah pak Jokowi dan perbesarlah isu agar publik tahu kalau pak Jokowi selalu difitnah.

      Saya nggak bisa komentar soal ini, karena saya bukan tim kampanye Jokowi, jadi nggak ngerti dalemannya. Mungkin anda benar, tim kampanye pasti ada busuknya. Cuma masalah mana yang lebih busuk saja. Tapi bagi saya yang orang luar, yang nggak dapat informasi dari ring 1-ring 2- onion ring, yang saya telaah adalah informasi yang ada di permukaan. The way I see it, busuknya kampanye dari Tim Prabowo lebih parah (lbh banyak kampanye hitam terhadap Jokowi). Dan saya belum sampai pada level bisa berfikir kalau: tim Jokowi sengaja menyebar fitnah untuk dirinya sendiri agar dapat simpati masyarakat, misalnya dengan mengaku Cina, Kristen, PKI, dll. Hebat ya, anda sudah 5 tahun di garda terdepan Jokowi, untuk pilgub DKI. Karena pilgubnya baru 2 tahun yang lalu (2012). Berarti anda sudah ada di tim kampanye pilgub Jokowi sejak tahun 2009.

      mengembalikan rasionalitas kita yg secara tidak sadar telah kita gadaikan demi kemenangan

      Saya setuju. Makanya, saya lewat tulisan ini mengajak agar semua pihak bisa rasional, siapapun capres pilihannya. Kalau bisa rasional, tanpa informasi dari ring-1, ring-2 pun, mudah saja untuk melihat mana pilihan yang lebih baik.

      Btw, saya masih mbak-mbak loh.

    2. mas/mbak pasti antek wowo!!! dibayar berapa?!?!?!

      gak deng, canda…

      saya masih ngerasa rasional sih, jadi ga usah dibalikin. kan gini, lembaga2 yg memutuskan jokowi menang ada track recordnya. jadi rasional aja kalo sy lebih percaya lembaga2 ini ketimbang siaran tvone dan viva group. sy juga selama proses kampanya kl ada berita dr metrotv selalu cek ulang, soalnya metro kan bias kayak yang mas/mbak bilang. tapi kali ini, rasional saya tetep lebih percaya sama qc2 yg menyatakan jokowi menang. masa iya rri memihak? kompas, gitu? kayaknya terlalu resiko utk nama2 besar untuk malsuin info cm supaya jokowi menang.

      kalo kita ga ngomongin qc ini terus, prahara akan lebih gampang meyakinkan publik kalo dia menang. wong ga ada yang menyanggah. untuk tunggu hasil kpu doang bahaya karena ga ada pembanding. sengerti saya sih gitu. jadi kalo tiba2 beda sm qc bisa diselidik, yang salah metode qc apa di kpu. apalagi dengan prahara yang ngotot banget sudah menang. kesannya lagi membuat kebenaran baru loh menurut saya sih.

      lebih masuk akal mikir jokowi dicurangin, apalagi dengan lembaga2 qc yg mendukung. buat saya sih si penulis gak kehilangan rasionalitas.

      salam ngabuburit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s