#koinuntukAustralia


Atau #koinuntukAbbott ?

Terserah yang mana saja.

Barusan, di acara berita di TransTV, dilaporkan bahwa sebuah sekolah dasar juga ikut berpartisipasi mengumpulkan receh sebagai bentuk protes mereka atas protesnya Australia (lewat Abbott secara resmi) kepada kita.

Bapak Wakasek saat diwawancara menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan olah SD terkait (saya terlambat, tidak sempat lihat nama SDnya), dengan tujuan agar anak-anak sedari kecil sudah memahami pentingnya menjadi negara yang berdaulat. Dan Indonesia adalah negara hukum yang berdaulat, punya aturan hukum sendiri, dan tidak bisa dengan sepele dicampuri urusan hukumnya oleh negara lain.

Kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi tidak ada makna yang diubah secara mendasar.

Memang, ini bukan satu-satunya sekolah (SD) yang ikut berpartisipasi setahu saya. Tapi ada yang mengganjal di hati dari berita yang satu ini.

Di salah satu scene, ada sebuah poster (atau selebaran yang ditempelkan dikotak uang?) yang bertuliskan:

Lanjutkan

Lanjutkan

Lanjutkan

Lanjutkan Hukuman Mati!

Sementara, di ruang yang sama, bocah-bocah SD sibuk menyusun/mengumpulkan uang receh. Entahlah, berapa persen dari mereka yang membaca tulisan di poster.

Kelihatannya sepele.

Tapi menurut saya tidak.

Narasi di balik acara pengumpulan receh oleh anak-anak ini mengukuhkan bahwa hukuman mati harus tetap dilanjutkan. Karena, tentu saja, mereka bersalah. Dan menurut hukum Indonesia, mereka pantas mati. Kita bukan bangsa yang lemah, mau membatalkan hukuman bagi orang yang pantas mati, hanya karena campur tangan asing.

Kita sudah mengajarkan kepada anak-anak itu, untuk menilai, siapa yang layak mati.

Sudah wajarkah? Anak-anak diberi pelajaran untuk menilai layak tidaknya seorang penjahat untuk mati? Bahkan manusia dewasa pun, menurut saya tak pantas untuk semena-mena menilai kejahatan mana yang layak diganjar mati.

Pengedar narkoba? Pembunuh? Begal? Teroris? Murtadin? Maling ayam?

Dalam persidangan yang paling fair sekalipun, kita hanyalah meraba-raba, siapa di antara mereka yang pantas mati. Atau lebih tepatnya, hukuman apa yang paling pantas dan adil untuk kejahatan mereka.

Dan kita mau mengajak anak-anak terlibat dalam hal ini?

Dan kita masih bertanya-tanya kenapa berita dengan judul “…dibakar massa” masih terjadi di negara yang katanya negara hukum? Menyalahkan video game dan manga? Atau karena kurang banyak pelajaran agama di sekolah?

Now, let me tell you.

It’s us. We are the problem.

Criminals are criminals. There are no doubts about it. But when you burn them alive, you voluntarily become one.

I think we are worse than Abbott.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s