Saya yang dulu religius dan kesulitan memahami konsep waktu geologi


Judulnya jelek. Who cares?

The good dinosaur akan diputar di bioskop November tahun ini. Trailernya sudah ada di sini. Kalau dulu meteor tidak jatuh ke bumi dan menghabisi dinosaurus, apa jadinya?

Saya dulu cukup religius. Ketinggalan 5 waktu sedikit langsung panik. Kalau berdoa suka nangis, inget dosa, yang di antaranya: suka sebel sama adek, suka males kalau di suruh orang tua. Sayang, waktu saya jadi doyan beer, saya sudah tidak lagi berdoa dan mohon ampun atas nikmatnya minum beer dingin.

Masa-masa muda yang penuh berkah Illahi. Dan di waktu yang sama, saya harus mengambil kelas Geologi Sejarah.

Kelas yang isinya Pak Dosen bercerita tentang Pangaea, semuanya serba jutaan tahun yang lalu, first amphibian, Permian extinction, first mammal, first whale, first grass, first snake, K-T extinction, first primitive primates, first hominid.

I heard too many firsts for the first time. Ever.

Bukan cuma saya yang terguncang. Teman yang duduk di sebelah saya berbisik “Memangnya dino beneran ada ya?”

Sepertinya kenyataan lebih berat baginya: anak AAI (Asistensi Agama Islam, yang sekarang sudah dihapus), lebih rajin ibadah daripada saya.

Let that question sink in for a while. Sampai ke pertanyaan selanjutnya yang lebih berat: Di mana kita harus letakkan Adam dan Hawa? Apa mereka manusia pertama? Were they just beamed from heaven? Kalau mereka yang pertama, apa mereka bagian dari hominid? Berapa umur bumi? Bukannya evolusi cuma akal-akalan ilmuwan-ilmuwan yang nantinya jadi bahan bakar di neraka?

Yang diajarkan Pak Dosen terdengar seperti dongeng karena terdengar terlalu hayal. Karena tidak cocok dengan yang diajarkan di kelas agama dan di taman pengajian anak-anak.

Cerita di kelas Geologi Sejarah terlalu overwhelming. Hayal puol. Dan saya melewatkan kelas itu dengan menghapal, tidak menerima–apalagi memahami–skala waktu geologi yang disusun mengikuti akumulasi temuan-temuan saintifik.

I survived the class with a solid A, but failed to understand the grand story of our home. I chose to ignore the evidence. Yang diajarkan Pak Dosen sama sulitnya diiyakan seperti sabda Lia Eden tentang Jibril akan landing di Monas untuk menjemput Lia Eden dan orang-orang terpilihnya. The old me would choose to laugh at Lia Eden’s religion, but at the same time to solemnly believe that Muhammad flying a bouraq to seventh heaven.

Yes, I was that lunatic.

Sekarang, sebagai orang yang tercerahkan, saya ingin berbagi. Di sini, kita bisa belajar tentang sejarah bumi. Website yang didisain untuk anak-anak pasti lebih mudah dipahami. Ragu-ragu boleh. Justru sangat dianjurkan. Tapi sampaikan dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab sendiri. There are tons of answer on the internet. You don’t even need to take a seat in geology class. Kalau sudah terlatih, maka akan lebih mudah buat mengenali jawaban yang paling tepat.

So, have fun and good luck! I’ll see you around.

EPILOG.

Oh wait, what’s on TV today?

Peserta Aksi (kompetisi menjadi penceramah agama di Indosiar):

“Kunci hidup sehat ala Rasul yang ketiga: minum harus duduk, kalau nggak ginjalnya rusak

Masih jauh.

Iklan

2 pemikiran pada “Saya yang dulu religius dan kesulitan memahami konsep waktu geologi

    1. Well, I guess I’ll say thanks to this.

      BTW, saying “see ya in hell” implies that you’ll be there too, it is telling that you are pretty sure that we’ll be in hell at relatively the same time, so we have the chance to meet each other. Don’t be too worried, there will be too many cool people in hell, we’ll party all night.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s