Saya bukan gay, juga bukan lumba-lumba


“LGBT itu justru orang-orangnya emosi-nya nggak stabil loh.”

Said a friend on our way to lunch. Just yesterday.

“Kalau mereka stabil emosinya, pasti mereka nggak bingung lagi. Nggak labil lagi jadi suka sesama jenis.”

Keep preaching, sister!

Jadi, mereka gay karena emosi tidak stabil? atau emosi mereka tidak stabil karena mereka gay? Wow, salut buat gay-gay yang–kata temen saya–emosinya tidak stabil, tetapi tetap bisa berfungsi dengan baik sebagai manusia, lebih daripada manusia heteroseksual lain.

Kalau saya gay, dan tinggal di Indonesia I would have killed myself a looong time ago. Bagaimana bisa hidup normal sebagai gay di negara yang super religius ini? It took exactly 9 years for my parents to accept my catholic boyfriend FFS.

“Kamu gay yaaaa, kok dukung sih? Hayooo jangan-jangan aslinya suka cewek nihhh”.

EVACUATE! NOW!

All I could say was “Ini kalo mau diterusin, bakal jadi panjang”.

We changed subject.

But her mean words echoed for a lot longer than I thought.

Apakah harus jadi gay untuk menjadi sedikit saja lebih pengertian kepada mereka yang gay?

Apa saya juga harus jadi lumba-lumba sebelum dibolehkan protes lumba-lumba show di sea world?

Pernah dengar apa itu “empati”?

It was high school and early college days all over again.

Iya kan? Waktu SMA atau pas kuliah pasti pernah punya grup temen main yang deket banget yang kebetulan salah 2- atau 3-nya beragama Hindu, Katolik, Kristen, atau Buddha kan?

Yea we got along extremely well, but we secretly believed that they are gonna be burnt in hell, because Islam is the only way to heaven. HA! Jokes on you kafir friends! We were just being nice to you!

Or that one melambai guy, or super tomboy girl in our group who was always around. Ya ya ya. Kita temen baik kok, kita tetep ada biarpun dia menyimpang, sambil sedikit mengarahkan biar mereka menyadari dosanya dan kembali ke jalan yang lurus.

Munafik level Indonistan.

As I grow older, now I perfectly understand why common social interaction was (and is) always tiring me.

Sumpah. Selesai makan siang, saya pusing berat. Ternyata pura-pura ketawa itu perlu energi banyak. Tau gitu saya nggak pesen nasi setengah.

Balik lagi. Indonistan.

Apa sih yang saya harapkan?

Kesimpulannya: (1) sebaiknya jangan ngomongin isu-isu sosial yang sensitif dengan teman-teman, (2) mungkin sesekali perlu dipancing dengan berita-berita menyenangkan, misalnya first flower on space, gravitational wave, atau sejenisnya, and see how it goes, dan yang selalu aman (3) back to basic, ngomongin anak (-nya dia, tentu saja, karena anak saya is a sooper dooper cute pug), ngomongin suami (-nya, tentu saja, karena saya belum kawin, dan pacar saya beda agama di KTP, and another judgmental preaching friend is the last thing I need in my life), ngomongin makanan, tempat nongkrong (jangan Raminten, yang punya gay soalnya), dan ngomongin gosip artis (jangan Bunda Dorce, because, you know).

BTW.

Here is a pic of my son on his favorite chair. Are you feeling sleepy bubba?

12722024_10201513856884654_1089812432_n

Iklan

2 pemikiran pada “Saya bukan gay, juga bukan lumba-lumba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s