Interupsi atau walk out?


Pernah baca tweet seseorang (lupa siapa) menyarankan untuk interupsi atau walk out dari khutbah sholat Jumat (atau khutbah apapun) yang isinya busuk (termasuk menjelek-jelekkan Syiah, Ahmadiyah, atau agama lain).

Now, that is a real privilege.

Pacar saya tidak bisa interupsi ataupun walk out–dari rumahnya sendiri.

Pengajiannya memang bukan di rumah pacar saya, tapi entah di masjid yang mana di kampung belakang. Di Bogor.

Tapi terdengar jelas lewat telepon oleh saya, yang ada di Jogja.

1 (satu) itu angka terbaik, maka konsep trinitas itu salah. Tidak ada roh kudus. Tidak ada…. (dst)

Berapi-api. Ala masjid kampung.

Allah itu tunggal! Tidak ada bilangan intern dan ekstern (??)

Bilangan apa itu? Is he smoking something?

Bagian terburuk bukanlah malam minggu kami yang terganggu, melainkan kenyataan bahwa pacar saya adalah seorang Katolik.

Suara toa masjid yang warbyasa nyaring, completed by shitty sound system, memaksa kami mendengar khutbah basi Pak Kyai.

Khutbah macam ini bukan hal yang baru bagi saya.

Pernah suatu kali di kelas agama Islam waktu saya SD, bu guru bilang bahwa “menyembah berhala berarti kafir” di hadapan teman saya yang Buddha. To make it worse, she added “Iya kan, In?”

Indra adalah nama teman saya yang beragama Buddha yang beliau maksud.

Interupsi atau walk out?

Some people can’t even do that.

Tutup kuping pun masih terdengar samar-samar khutbahnya.

Pacar saya “diserang” di tempat yang paling pribadi. In his fookin house.

Sebagai seseorang yang tak lagi berasosiasi dengan agama Islam dan agama lainnya (dalam level personal, tentu saja), I can do nothing, but writing.

I was upset. Of course. Who wouldn’t?

Tapi maaf sayang, There’s nothing I can do. Really.

As much as I want to fly my ass up there, unleash all the rage, flip the mimbar, bitch-slap the imam, and everything, the truth is, I am powerless.

The only thing I can do is listening to your uneasiness.

Let me give you the virtual hug you need.

 

#5Komedireligi: Mungkin, yang Anda perlukan adalah Ahli Jin


Mamah Dedeh. Lagi. Nggak tau deh, kok saya bisa gandrung banget sama mamah-mamah yang satu ini. Memang, Mamah Dedeh TOP BGT. Tayangnya di tv pagi ini. Ada Ibu Siti dari Magetan lewat skype bertanya:

Mah, curhat dong!

Disambut dengan jawaban kompak dari Ibu-Ibu Majlis Taklim yang nonton live di studio:

Iya dongggg!

Ibu Siti melanjutkan pertanyaannya:

Mah, gimana ya cara mengatasi orang yang kesurupan, sudah 10 tahun. Dulu pernah hilang (di mana? nggak begitu jelas tadi) berapa hari orangnya, terus begitu balik kok kayak orang sakit jiwa. Padahal kita sudah mengusahakan berobat ke banyak tempat. Termasuk ke dukun-dukun.

Mamah Dedeh lalu menjawab

Ibu, yang namanya kesurupan itu 2 menit, 3 menit, 10 menit. Kalau sampai 10 tahun itu mungkin sakit jiwa….Kalau sudah begitu dibawa ke ahlinya. Orang yang paham masalah dan bisa mengobati.

Saya berfikir, “Hey! That sounds promising”. Saya sudah bersiap-siap kecewa karena sepertinya hari ini Mamah Dedeh akan memberikan jawaban yang tidak ajaib. Lalu Mamah melanjutkan:

Bawa ke ahli jin, minta jin-nya dikeluarkan. Diruqyah. Jangan dibawa ke dukun yang mandi-mandi kembang. Karena obat yang benar adalah dengan doa-doa kepada Alloh, dan dengan ayat-ayat Quran.

I know, righhhttt. Mamah Dedeh memang nggak akan pernah mengecewakan saya. Terima kasih Mamah. Curhat dong!!!

#4Komedireligi: Stereotype


Mamah Dedeh lagi.

Ada ibu-ibu majelis taklim entah dari mana bertanya:

Mah, kalau ada wanita rajin sholat, ibadahnya bagus, tapi masih bekerja sebagai pelacur (she did say pelacur), hukumnya gimana ya Mah?

Dan, tentu saja, jawaban Mamah Dedeh:

Itu berarti, ibadahnya baru di permukaan saja. Belum meresapi maknanya ibadah. (I have to rephrase it, since she mentioned a particular Arabian language/term for this and I could not remember it).

Begitu banyak hal yang mbingungin, sampai saya tidak tahu harus mulai dari mana.

Mulai dari si ibu penanya. What was her intention asking such question? Does she know the woman of interest very well? A neighbor? A friend? Or even a relative? Saya berasumsi si Ibu kenal dengan wanita yang terkait, kalau tidak buat apa coba si Ibu repot-repot dandan di pagi buta untuk menghadiri pengajian Mamah Dedeh dan secara khusus meminta pendapat soal ibadah si Mbak ke pihak ketiga (si Mamah Dedeh). Apa si Ibu betul-betul khawatir kalau ibadah si Mbak tidak diterima Tuhan? Atau sebenarnya, di lubuk hati si Ibu mengutuk pekerjaan si Mbak, dan menilai, tidak pantas orang yang rajin beribadah menjadi pelacur. Atau bahkan lebih buruk lagi, menurutnya tidak pantas seorang pelacur rajin beribadah. Sudahkah si Ibu penanya, mencari tahu latar cerita kehidupan si Mbak? Atau mungkin berusaha mencarikan jalan keluar (ini hanya jika si Mbak merasa ingin dicarikan jalan keluar)? Permasalahan yang begitu rumit, dengan semena-mena dirangkum dalam satu pertanyaan yang menghina.

Dan tentu saja, kita tidak bisa mengharapkan jawaban yang menenangkan dari Mamah Dedeh. Mamah Dedeh bukan menjawab malah sebetulnya. Dia menghakimi, acting God dan menilai ibadah si Mbak. Karena tentu saja, si Mbak adalah seorang pelacur, dan orang yang rajin beribadah tentu tidak akan bekerja menjadi pelacur.

Tanya jawab berakhir di sana. Begitu pula isi kepala ibu-ibu di sana. Berhenti di sana. Titik. They stereotype and are acting God.

And here I am stereotyping the Ibu-ibu majelis taklim dan Mamah Dedeh.

 

 

Mencoba menjadi Mamah Dedeh


Kalau salah satu ibu-ibu majlis taklim ada yang bertanya: Mamah, anak saya sudah haid selama hampir 30 hari. Darahnya nggak berhenti keluar. Itu sebaiknya ibadahnya bagaimana ya Mah? Hukumnya, sholatnya diterima atau nggak ya Mah?

Maka saya seharusnya menjawab dengan urutan:

1) menjelaskan perbedaan antara darah kotor dan darah bersih menurut Nabi Muhammad saw

2) Lalu memberi instruksi ke si ibu untuk ambil sample darah putrinya, kalau deskripsinya lebih cocok dengan darah kotor, maka haram sholat dan segala bentuk ibadah lainnya. Tapi kalau sebaliknya, you go girl! Sholat dan ibadahlah sebanyak-banyaknya.

Itu sudah yang paling benar.

Bukan urusan si Mamah Dedeh, si anak ibu itu sakit apa. Apalagi kita hidup di dunia yang tidak ada dokternya seperti ini. Do’a lebih bermanfaat, terutama di detik-detik mendekati ajal.

Idulfitri di earth-like planet


Ini lebaran ke-3 saya rayakan jauh dari orang-orang tersayang. Maaf-maafan cuma lewat skype. Tapi it’s all good, karena tahun depan sepertinya saya sudah bisa berlebaran di rumah. Tapi pengungsi Syiah dari Sampang, punya nasib yang lebih buruk. Dilarang pulang ke kampung halamannya untuk lebaran. Nekat pulang, bisa jadi malah jadi lebaran terakhir. Syiah minoritas di Indonesia. We hate them, kata para ulama mainstream Indonesia yang kebanyakan Sunni. Di Iraq bahkan, ISIS sudah bergerak menghabisi Syiah, dan juga umat Kristiani. Poor Syiah. Di Iran, mungkin ada harapan bagi Syiah, karena mereka bukan minoritas disana. Tapi bumi tidak serta merta damai. Di atas langit masih ada langit, di bawah minoritas, masih ada minoritas. Masyarakat kelas 2 dan 3 dalam bahaya. There is an endless chain of hatred, within Islam. Semua pihak tentu saja merasa apa yang dilakukan, membunuh sekalipun, semua atas nama ajaran Tuhan dan Rasulnya, dari Kitab Suci Al-Quran dan Hadith.

Kita yang ada di luar lingkaran kebencian ini, tentu saja tidak boleh salah paham. Mereka bilang “Kita damai kok” sambil nggak sengaja pisaunya nempel kulit leher kita.

Serem ya?

Tenanggg, tadi semua cuma dongeng kok. Tidak betul-betul terjadi di bumi kita yang ini. Manusia penghuni bumi kita ini sudah paham bahwa menghormati umat manusia lain adalah hal yang paling dasar dan mudah untuk dimengerti. Tidak perlu hafal satu bundel tebal kitab suci untuk tahu bahwa we’re all just humans. We share the same earth, oxygen, and water. Whatever you eat, babi atau bukan, kita tetap harus mengeluarkan kotoran. Bedanya cuma mau jongkok atau duduk. Karena Islam itu rahmatan lil alamin. Ajaran damai untuk seluruh umat manusia. Let me rephrase it: Islam brings happiness for every single human being on earth.

Jadi met lebaran ya!

Bagi opor dong! Kalo nggak, rajam nih!

#3Komedireligi. Standar ganda: mabuk jamur teletong atau mabuk anggur merah?


Buat saya suatu keajaiban, bagaimana fundamentalis Islam (dan agama lainnya) mampu mengakomodir dua hal yang sangat berlawanan secara bersamaan dalam waktu yang sama, dan di kepala yang sama.

Misalnya, bagaimana ukhti-ukhti HTI dan PKS ikut panas-panasan untuk menyampaikan aspirasi mereka yang isinya mengharamkan demokrasi dan menilai sistem khilafah dengan syariah Islam lebih cocok diterapkan di Indonesia (dan di seluruh dunia kalau bisa). Ironinya, mbak-mbak ini punya hak untuk berorasi di tempat umum juga thanks to the so called “demokrasi orang kafir”. Kalau kita menerapkan sistem khilafah, syariah secara kaffah di Indonesia, maka tugas mereka adalah menjaga rumah bersama tiga istri lainnya, dan belasan anak dari seorang pria yang sama. Entah mereka promosi khilafah dengan kesadaran penuh bentuk masa depan yang mereka idealkan, atau bisa jadi mabuk jamur e`ek sapi berjamaah?

Atau contoh jamak lainya, mereka yang benci mati-matian terhadap sains, karena dianggap bias dan disetir oleh sekularis dan/atau atheist, menolak mati-matian fakta bahwa bumi berumur 4.5 milyar tahun. Padahal segudang pendukung berupa bukti ilmiah sudah ditampilkan dengan sangat sistematis. Mereka gagal paham bahwa teori ilmiah diterima sebagai suatu konsensus yang mainstream setelah melalui proses panjang yang melibatkan observasi, percobaan, peer-review, teori jatuh, observasi, percobaan, peer-review teori bangun, dan seterusnya. Sampai teori tersebut tidak terbantahkan lagi. Ironinya, mereka yang gagal paham lebih memilih percaya ayat suci yang dengan ajaib datang dari bisikan langit bahwa bumi berumur baru 6000 tahun. Halo, saya ngomongin semua agama loh ini.

Yang lebih lucu lagi, saat agama x, misalnya, menertawakan agama y yang meyakini Tuhan adalah corgi gendut berpelampung yang tinggal di planet uranus, sementara mereka sendiri percaya bahwa Tuhan berupa space-pug berpiyama yang diputari oleh matahari dan sesekali liburan di pluto.

Okay-okay, I know I am an ass to the “mabuk agama” guys.

My point is enjoy and keep your religion to yourself.

Beragama itu sesuatu yang sangat subjektif. Titik. Itu faktanya.

Basic beragama adalah percaya tanpa melihat. Kebanyakan mereka yang beragama sungguh-sungguh memiliki pengalaman spiritual yang sangat pribadi. Yang mampu mengalahkan tawaran pindah agama dengan iming-iming Indomie satu truk.

Tapi kok saya jadi ngelantur dakwah nggak jelas ya.

Sebenarnya, tadi mau sharing dua video dari Mesir.

Video satu bertanggal 2 Mei 2013.

Sedangkan video yang kedua bertanggal 18 Mei 2014.

Sudah nonton kan?

Nah, buat saya, si mbak host yang cantik pretty much menggambarkan muslim Indonesia (dan dunia) pada umumnya. Mbaknya punya feature seragam, yang umum dijumpai: standar ganda.

Di video pertama, si Mbak tampak sangat kritis, dan merasa direndahkan dengan paksaan memakai jilbab. Si Mbak tampak sangat developed dan modern, mengkritisi pelecehan seksual yang dilakukan oleh si tamu dalam suatu ritual pengusiran setan.

Dan ironisnya, di video kedua, si Mbak justru bersifat layaknya bapak tamu yang ada di video pertama. Si mbak tidak bisa menerima pemikiran tamu kedua yang menemukan jalan keluarnya dari agama. Si Mbak host menjadi marah saat si tamu kedua menyampaikan keyakinannya bahwa, singkatnya, agama adalah mitos belaka. Things got ugly saat si Mbak host menyampaikan cita-citanya agar syariat Islam diterapkan di seluruh dunia, termasuk hukum potong tangan bagi pencuri, dan rajam batu bagi adulteress (wanita terlibat perselingkuhan) sementara tidak disebutkan adulterer (prianya).

Ada keraguan akan keaslian acara ini. Bisa jadi ini acara macam hipnotis Uya-kuya di televisi. Yang hampir bisa dipastikan: ini bukan video rekayasa buatan Wahyudi dan Rhemason.

Tapi, apa yang ditampilkan dan diributkan adalah nyata. Hal yang sangat umum dijumpai di Indonesia. Kemampuan para hipokrit untuk mengakomodasi standar ganda-lah yang memberi peluang mereka yang “mabuk agama” untuk dengan mudahnya menghakimi dan melarang-larang orang yang berbeda “mabuknya” dari mereka. Karena mereka gagal paham, mabuk jamur e’ek sapi juga sama mabuknya gara-gara minum Topi Miring.

Di saat otoritas mandul dan tidak bisa berbuat apa-apa, maka yang dibutuhkan adalah kesadaran para pemabuk, untuk saling menghormati pemabuk lainnya. Toh sama-sama mabuk ini, kenapa mesti saling meributkan tetangganya mabuk apa sih?

Yo ra dab? 

*Btw, kita semua setuju sama satu hal ya, Mbak host nya bukanlah interviewer yang baik. Rada mirip mbak-mbak di TVOon yes?