Saya bukan gay, juga bukan lumba-lumba


“LGBT itu justru orang-orangnya emosi-nya nggak stabil loh.”

Said a friend on our way to lunch. Just yesterday.

“Kalau mereka stabil emosinya, pasti mereka nggak bingung lagi. Nggak labil lagi jadi suka sesama jenis.”

Keep preaching, sister!

Jadi, mereka gay karena emosi tidak stabil? atau emosi mereka tidak stabil karena mereka gay? Wow, salut buat gay-gay yang–kata temen saya–emosinya tidak stabil, tetapi tetap bisa berfungsi dengan baik sebagai manusia, lebih daripada manusia heteroseksual lain.

Kalau saya gay, dan tinggal di Indonesia I would have killed myself a looong time ago. Bagaimana bisa hidup normal sebagai gay di negara yang super religius ini? It took exactly 9 years for my parents to accept my catholic boyfriend FFS.

“Kamu gay yaaaa, kok dukung sih? Hayooo jangan-jangan aslinya suka cewek nihhh”.

EVACUATE! NOW!

All I could say was “Ini kalo mau diterusin, bakal jadi panjang”.

We changed subject.

But her mean words echoed for a lot longer than I thought.

Apakah harus jadi gay untuk menjadi sedikit saja lebih pengertian kepada mereka yang gay?

Apa saya juga harus jadi lumba-lumba sebelum dibolehkan protes lumba-lumba show di sea world?

Pernah dengar apa itu “empati”?

It was high school and early college days all over again.

Iya kan? Waktu SMA atau pas kuliah pasti pernah punya grup temen main yang deket banget yang kebetulan salah 2- atau 3-nya beragama Hindu, Katolik, Kristen, atau Buddha kan?

Yea we got along extremely well, but we secretly believed that they are gonna be burnt in hell, because Islam is the only way to heaven. HA! Jokes on you kafir friends! We were just being nice to you!

Or that one melambai guy, or super tomboy girl in our group who was always around. Ya ya ya. Kita temen baik kok, kita tetep ada biarpun dia menyimpang, sambil sedikit mengarahkan biar mereka menyadari dosanya dan kembali ke jalan yang lurus.

Munafik level Indonistan.

As I grow older, now I perfectly understand why common social interaction was (and is) always tiring me.

Sumpah. Selesai makan siang, saya pusing berat. Ternyata pura-pura ketawa itu perlu energi banyak. Tau gitu saya nggak pesen nasi setengah.

Balik lagi. Indonistan.

Apa sih yang saya harapkan?

Kesimpulannya: (1) sebaiknya jangan ngomongin isu-isu sosial yang sensitif dengan teman-teman, (2) mungkin sesekali perlu dipancing dengan berita-berita menyenangkan, misalnya first flower on space, gravitational wave, atau sejenisnya, and see how it goes, dan yang selalu aman (3) back to basic, ngomongin anak (-nya dia, tentu saja, karena anak saya is a sooper dooper cute pug), ngomongin suami (-nya, tentu saja, karena saya belum kawin, dan pacar saya beda agama di KTP, and another judgmental preaching friend is the last thing I need in my life), ngomongin makanan, tempat nongkrong (jangan Raminten, yang punya gay soalnya), dan ngomongin gosip artis (jangan Bunda Dorce, because, you know).

BTW.

Here is a pic of my son on his favorite chair. Are you feeling sleepy bubba?

12722024_10201513856884654_1089812432_n

Iklan

Science Does NOT Work That Way


Dalam sains, kita semua boleh membuat pernyataan apa saja. Bebas.

Saya boleh-boleh saja bilang bahwa gunung meletus karena ada naga menyemburkan api di bawahnya.

Sah-sah saja.

Saya hanya perlu membuat rangkaian bukti dan argumen yang mendukung klaim saya yang tadi.

Saya harus memberikan bukti-bukti keberadaan naganya, mendeskripsikan naganya, bagaimana naga tinggal di bawah gunung, dan mekanisme terjadinya letusan gunungapi akibat semburan api dari mulut naga.

Kalau mau lebih advance lagi, saya harus bisa menjelaskan dengan bukti-bukti bagaimana asal-muasalnya si naga api bisa tinggal di sana.

Begitu semua sudah saya tulis, saya laporkan, dan terbitkan, maka siapapun boleh menyerang ide saya tadi. Siapapun ini termasuk saya sendiri (si pemilik ide awal) yang bisa jadi setelah paper-nya terbit tiba-tiba menyadari, ternyata bukan naga, melainkan golden retriever supersaiyan, yang tinggal di bawah gunungapi. Dan ternyata bukan semburan api dari mulut, melainkan kentut si golden retriever super saiyan, yang menyebabkan letusan gunungapi.

Tapi mereka yang merespon paper saya, baik setuju atau tidak atau setuju sebagian, harus melakukan hal yang sama. Memberikan bukti dan argumen dengan standar yang (minimal) sama dengan yang pernah saya lakukan. Mereka boleh menyerang semua bagian dari teori saya yang dianggap lemah. Termasuk metodenya. Bisa jadi metode “do’a 3 hari 3 malam” saya kurang tepat diterapkan dalam penelitian. Bisa jadi peneliti yang ternyata menggunakan metode “do’a 7 hari 7 malam dan puasa nasi (puasa tidak makan nasi, tapi lauk saja)” memperoleh hasil yang lebih akurat dibandingkan saya.

Kalau akhirnya skema besar teori saya sudah sulit untuk dibantah lagi, dan sudah bisa diterima oleh hampir seluruh khalayak sains, maka penelitian di bidang ini bisa terus maju.

Saya bisa saja hanya menjelaskan naga hitam yang menyemburkan api biru di bawah Mordor. Peneliti lain setelah saya bisa saja menemukan jenis naga lain yang berbeda dengan naga saya di bawah gunungapi yang lain. Bisa jadi setelah puluhan tahun disetujui, ada metode yang lebih ampuh, dan membuktikan bahwa saya salah. Bisa jadi saya salah, betul ada naga, tapi bukan penyebab adanya letusan gunungapi.

Science does not always give answer at the get go, but everything, almost everything, is possible in science.

So, kids. That is how science works.

Dalam sains:

  • Kamu boleh bilang apa saja.
  • Selama didukung oleh bukti dan argumen yang sesuai kaidah saintifik.

DAN,

jangan ngaku-ngaku researcher atau scientist kalo ginian aja nggak ngerti.

BYE.

http://mostlyscience.com/2014/06/science-behind-sciencemediahype/
http://mostlyscience.com/2014/06/science-behind-sciencemediahype/

John Carter vs. Mark Watney


Salah satu penyesalan terbesar saya adalah melewatkan Interstellar di bioskop. So, when The Martian came out, I rushed to the nearest cinema. By myself. And it soon became one of the best decisions I’ve ever made.

The pace, the character, and the mood built in the story were superb. I really-really-really love it.

Kalau DPR kita betul-betul mau mewajibkan ada pesan moral dalam setiap film, maka The Martian memenuhi kriteria itu buat saya. As Watney said at the end of the movie: solve one f****** problem at a time. That is one hell of an inspirational quote over there.

Di suatu seminar setelah “The Martian experience”, saya dan para senior berkumpul, bergosip tentang apa saja. Termasuk soal The Martian. (Just a heads up, they are a bunch of “lecturers & scientists”. The ones that work at a reputable university and get paid by the government.)

Mengejutkan buat saya bagaimana mereka terkejut waktu saya bilang bahwa The Martian is quite scientifically accurate (except for few things that need to be made up for the sake of  story development). Di level yang lebih pedas lagi, mereka kembali mengejutkan saya dengan ide bahwa The Martian is less scientific than John Carter.

John Carter? Saya nggak salah dengar kan?

When I rumbled crazily about Andy Weir’s talk about The Martian and the science behind it at Google, they were really not into that. The idea that The Martian was quite scientifically accurate was blasphemous to them. Enough said.

A memory flashes my mind. A colleague, also a good friend of mine, was once saying how ridiculous it is to dream about colonizing mars, or moon. As a proud geek as I am, I insisted that colonizing mars and moon is possible in the future. Possibly not in our lifetime. Possibly we will be (long) dead by the time it happens.

(Oh No! I wish I will still be alive by the glorious time of interstellar travel.)

Then BOOM!

Mars One mission happens. Due in 2020. I am pretty much sure that we both will still be alive by then. Of course, assuming that nothing fatal is happening to any of us by the launching date of the mission.

So here are the billion dollars worth questions:

(1) Why can’t we be more ambitious?

I mean, they are expecting heaven after life, thus they are being properly religious. Isn’t it also some sort of being ambitious? Then why don’t we be more ambitious and positive towards science too? After all we just need to sit and watch as humanity progresses. One f****** step at a time. All we need to do is just keep doing what we’re pretty good at, and share the glory of being a part of the very same living beings who make remarkable progress.

(2) Why do we have problem accepting scientific evidence? I mean in science, anyone (including us) gets the chance to disprove anything we doubt, also using scientific method. Why do we easily believe the most atrocious fairy tales ever be told on earth instead?

Being skeptical is gold for every scientist. In fact, you have to be skeptical to be one. But being skeptical toward the “right” thing, apparently, is another story. How come we have problem with people trying to find life (in any forms) outside the earth, but we are suddenly okay with people telling stories of life after death in the heaven. (You know the one with wine river and tens of virgins who are willing to be your sex slave.)

Look at the probability alone. Look at the number of planets that is potential for extraterrestrial life to bloom. And the earth is fortunate to have people whose job is finding those alien lives, at the very same second I am writing this sh**** blogpost.

And my final question:

(3) What is your problem? You don’t have the ability to pick the “right” problem to be skeptical about, but you still consider yourself a scientist?

I am over and out.

PS. As always, here is the mandatory pug photo to brighten up your day.

IMG_3101

Saya yang dulu religius dan kesulitan memahami konsep waktu geologi


Judulnya jelek. Who cares?

The good dinosaur akan diputar di bioskop November tahun ini. Trailernya sudah ada di sini. Kalau dulu meteor tidak jatuh ke bumi dan menghabisi dinosaurus, apa jadinya?

Saya dulu cukup religius. Ketinggalan 5 waktu sedikit langsung panik. Kalau berdoa suka nangis, inget dosa, yang di antaranya: suka sebel sama adek, suka males kalau di suruh orang tua. Sayang, waktu saya jadi doyan beer, saya sudah tidak lagi berdoa dan mohon ampun atas nikmatnya minum beer dingin.

Masa-masa muda yang penuh berkah Illahi. Dan di waktu yang sama, saya harus mengambil kelas Geologi Sejarah.

Kelas yang isinya Pak Dosen bercerita tentang Pangaea, semuanya serba jutaan tahun yang lalu, first amphibian, Permian extinction, first mammal, first whale, first grass, first snake, K-T extinction, first primitive primates, first hominid.

I heard too many firsts for the first time. Ever.

Bukan cuma saya yang terguncang. Teman yang duduk di sebelah saya berbisik “Memangnya dino beneran ada ya?”

Sepertinya kenyataan lebih berat baginya: anak AAI (Asistensi Agama Islam, yang sekarang sudah dihapus), lebih rajin ibadah daripada saya.

Let that question sink in for a while. Sampai ke pertanyaan selanjutnya yang lebih berat: Di mana kita harus letakkan Adam dan Hawa? Apa mereka manusia pertama? Were they just beamed from heaven? Kalau mereka yang pertama, apa mereka bagian dari hominid? Berapa umur bumi? Bukannya evolusi cuma akal-akalan ilmuwan-ilmuwan yang nantinya jadi bahan bakar di neraka?

Yang diajarkan Pak Dosen terdengar seperti dongeng karena terdengar terlalu hayal. Karena tidak cocok dengan yang diajarkan di kelas agama dan di taman pengajian anak-anak.

Cerita di kelas Geologi Sejarah terlalu overwhelming. Hayal puol. Dan saya melewatkan kelas itu dengan menghapal, tidak menerima–apalagi memahami–skala waktu geologi yang disusun mengikuti akumulasi temuan-temuan saintifik.

I survived the class with a solid A, but failed to understand the grand story of our home. I chose to ignore the evidence. Yang diajarkan Pak Dosen sama sulitnya diiyakan seperti sabda Lia Eden tentang Jibril akan landing di Monas untuk menjemput Lia Eden dan orang-orang terpilihnya. The old me would choose to laugh at Lia Eden’s religion, but at the same time to solemnly believe that Muhammad flying a bouraq to seventh heaven.

Yes, I was that lunatic.

Sekarang, sebagai orang yang tercerahkan, saya ingin berbagi. Di sini, kita bisa belajar tentang sejarah bumi. Website yang didisain untuk anak-anak pasti lebih mudah dipahami. Ragu-ragu boleh. Justru sangat dianjurkan. Tapi sampaikan dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab sendiri. There are tons of answer on the internet. You don’t even need to take a seat in geology class. Kalau sudah terlatih, maka akan lebih mudah buat mengenali jawaban yang paling tepat.

So, have fun and good luck! I’ll see you around.

EPILOG.

Oh wait, what’s on TV today?

Peserta Aksi (kompetisi menjadi penceramah agama di Indosiar):

“Kunci hidup sehat ala Rasul yang ketiga: minum harus duduk, kalau nggak ginjalnya rusak

Masih jauh.

Kontroversi Perempuan Pansel KPK


Artikel asli karya Guru besar hukum tata negara Unmer Malang bernama Yang Mulia Bapak Prosesor Samsul Wahidin ada di sini. Saya cuma copy paste, dengan sediiiikiiittttttttt sekali modifikasi. Sambil membaca coba dibayangkan Guru besar hukum tata negara Unmer Malang bernama Yang Mulia Bapak Prosesor Samsul Wahidin sebagai seorang perempuan.

SEPERTI tiada henti, kontroversi dibuat dalam mengelola negeri ini. Kali ini, seluruh anggota Panitia Seleksi (Pansel) KPK adalah laki-laki. Meski alasan pemilihan seluruh anggota laki-laki itu tidak disebutkan, setidaknya penunjukan tersebut menyulut kontroversi yang justru sebenarnya bak kebalikan moto pegadaian: Menyelesaikan masalah dengan masalah. Semua dengan argumentasi yang kualitatif dan relatif.

Kebijakan itu seolah ’’menelanjurkan’’ bahwa perempuan tidak sesuai untuk duduk di posisi tersebut. Para agamawan yang reputasi moralitasnya tidak diragukan belum memenuhi syarat untuk duduk di pansel. Kebijakan itu juga bermakna percobaan. Bagaimana kalau seluruh anggota pansel adalah laki-laki, tanpa perempuan? Bukankah itu sejarah yang sangat penting sebagai buah kemenangan laki-laki sebagai perwujudan kesetaraan gender?

Aspek Kewenangan

Dari segi kewenangan, kita semua yang membenci korupsi bercita-cita sekurangnya menginginkan terwujudnya tanah air yang bebas korupsi. Korupsi yang tidak semata dipandang sebagai penyimpangan administrasi, tetapi merupakan extraordinary crime. Kejahatan yang bisa membangkrutkan negara. Koruptor tidak semata merugikan keuangan, namun juga pelanggaran berat terhadap prinsip moralitas kehidupan bersama. Karena itu, koruptor layak dijatuhi hukuman mati.

Kesepakatan yang merupakan komitmen tersebut harus terefleksi dalam kinerja konkret, terutama dengan tampilnya orang-orang yang bersih melawan korupsi. Merekalah yang layak menduduki posisi pimpinan KPK. Kejahatan itu umumnya lebih banyak dilakukan kaum perempuan. Sebab, sebagian besar tempat strategis sebagai sumber perilaku korupsi diduduki perempuan. Jadi, keliru jika pansel yang akan memilih tokoh-tokoh itu bukan perempuan.

Jika dirunut, seharusnya refleksi kewenangan untuk memberantas harus diduduki kaum perempuan. Pansel yang membentuk kepemimpinan KPK seharusnya terdiri atas kaum perempuan. Agak ganjil jika perempuan yang nanti menjalani seleksi berhadapan dengan lelaki yang kewenangan –yang bersumber pada biologis– dan geraknya lebih terbatas jika dibandingkan dengan perempuan. Bahasa wayangnya, seharusnya Srikandi, Limbuk atau Cangik, bukan Arjuna, Werkudara, apalagi Gatotkaca.

Pada aspek kewenangan, penunjukan anggota pansel itu merupakan hak prerogatif presiden. Namun, hak tersebut seharusnya diimplementasikan tidak semata dalam makna administratif. Aspek sosiokultural, termasuk agama, seharusnya dijadikan pertimbangan utama. Pada konsep agama, pansel itu adalah pemimpin. Orang yang akan menjadi pimpinan KPK harus tunduk pada aturan pansel yang semua laki-laki. Jadi, itu bertentangan dengan khitah agama dan moralitas sosial.

Pemilihan tersebut tentu berdasar mekanisme yang terukur serta terbuka dan dilakukan tokoh yang memang punya kredibilitas untuk mendudukkan para tokoh yang layak jadi pionir pemberantasan korupsi, dalam hal ini adalah pimpinan KPK. Tetapi, harus dipahami pula, pansel tidak sedang menyeleksi malaikat dan anggota pansel sendiri bukan malaikat. Semua adalah manusia yang tidak luput dari cela dan cacat. Namun, dengan memilih seluruh anggota pansel laki-laki, itu sudah merupakan cacat bawaan.

Dari standar normatif yang menjadi acuan seleksi, di samping yang sudah tertulis, ada keharusan bersifat terukur dalam arti kinerja pansel yang dibentuk itu menggunakan standar yang akuntabel. Akuntabilitas yang tecermin dari profil yang secara sosial bisa diterima. Dan itu ada pada perempuan, bukan laki-laki.

Dengan keharusan kinerja bersifat terbuka, tidak ada kasak-kusuk yang memandang perspektif pemberantasan korupsi dari dimensi yang objektif. Tidak pandang tempat atau asal dari mana pimpinan KPK nanti dipilih. Yang paling mengetahui implementasi hal itu adalah perempuan. Mengartikulasikan hal tersebut bagi seorang laki-laki cenderung menjadi fitnah.

Penyimpangan Administrasi

Tidak bermaksud prejudice, seharusnya tokoh pansel adalah orang yang mempunyai relasi terhadap permasalahan korupsi. Ibarat mengangkat mandor atau pengawas keamanan, hendaknya sosok itu diambil dari tokoh yang dekat dengan masalah keamanan atau orang yang punya hubungan atau relasi yang kuat dengan apa yang seharusnya dijaga. Jadi, ada hubungan emosional yang kuat antara pekerjaan dan personnya. Kalau tidak, mereka akan kehilangan jiwa dari pekerjaan yang dimaksud.

Kali ini begitu aneh. Entah bermaksud vevire pericoloso atau ada motivasi lain menunjuk anggota pansel laki-laki semua. Cenderung aneh pula, tidak ada seorang pun di antara sembilan person itu yang perempuan. Pada satu sisi, itu menjadi kemajuan penting dalam kaitan dengan bias gender. Tetapi, tentu itu bukan masalah dasar yang harus dijadikan pertimbangan. Objektif, bagaimanapun, akses dan orientasi laki-laki tidak akan lebih kuat daripada perempuan. Apalagi ketika yang dihadapi adalah permasalahan yang berkaitan dengan extraordinary crime.

Harapan besar untuk memberantas korupsi, formalnya, ditujukan kepada kepolisian, KPK, dan kejaksaan. Namun, apakah bisa dijamin para tokoh laki-laki yang kendati ’’hanya’’ menjadi pansel itu bisa memilih pimpinan KPK yang benar-benar teruji? Dari perspektif ini, pandangan terhadap korupsi tampak lebih pada penyimpangan administratif daripada bersifat extraordinary crime. Keharusan atau harapan agar KPK menjadi lembaga yang berwibawa juga sulit terpenuhi jika diisi tokoh yang diseleksi kaum laki-laki, yang tentu perspektif kinerjanya akan lebih sempit, tidak sebagaimana perempuan. Kecuali jika nanti dari hasil kinerja itu yang terpilih juga sama-sama laki-laki. Pansel laki-laki menghasilkan pimpinan KPK laki-laki? Oh… My Fucking God…

Panitia seleksi itu sudah lengkap dalam arti keahliannya. Namun, keahlian yang dimaksud tentu tidak berorientasi pada penanganan permasalahan hukum yang memadai. Ketika nanti harus dijabarkan dalam peraturan yang menjadi syarat, hal itu tidak akan bisa terakomodasi secara maksimal, apalagi memperkuat KPK. Ketuanya adalah ekonom, ahli keuangan, dan moneter. Dalam perspektif ini, yang menjadi masalah adalah pemberantasan korupsi yang memandang sebagai permasalahan ekonomi. Padahal, permasalahan korupsi merupakan dimensi hukum serta perilaku menyimpang secara psikologis.

Hal yang juga seharusnya dipertimbangkan, pansel itu mencerminkan aspek sosiokultural. Dalam filosofi Jawa, ada petitih bahwa rusaknya dunia itu karena tiga a: harta, takhta, dan pria. Itu memang relatif, tetapi sampai sekarang belum terpatahkan. Jadi, bagaimana mungkin mengangkat lelaki sebagai key person dalam membentuk kepemimpinan KPK yang kuat, sedangkan laki-laki dalam perspektif ini menjadi sumber kerusakan?

Meski presiden berharap pansel segera bekerja, di sana juga terselip harapan, pansel yang kontroversial itu menjadi catatan yang dengan penuh harap dipertimbangkan kembali untuk mewujudkan harapan presiden tersebut. (*)

Dunia ideal saya adalah dunia yang gender-blind. Kamu bisa jadi apa saja yang kamu mau, nggak peduli kamu numbuhin penis atau vagina di pangkal paha. Jadi, ada yang salah di kepala kamu, kalau kamu mengamini opini Guru besar hukum tata negara Unmer Malang bernama Yang Mulia Bapak Prosesor Samsul Wahidin.

Dan sebaliknya, semua anggota Pansel KPK adalah perempuan juga bukan suatu hal yang seharusnya membuat kita berfikir kalau semuanya sudah baik. Because Ratu Atut, Angelina Sondakh, Nunun N (and others) are also real.

Kita tentu saja patut menghargai keputusan Jokowi yang menunjuk semua anggota pansel perempuan di lingkungan yang alam bawah sadarnya masih beranggapan bahwa perempuan adalah warga kelas dua. Ini adalah sebuah dorongan yang diperlukan untuk membuat perubahan. Memberikan kesempatan perempuan-perempuan yang berkompetensi untuk tampil dan menunjukkan bahwa terlahir dengan aksesoris permanen berupa vagina bukan hal yang buruk. A baby step untuk menciptakan gender-blind society.

Pansel laki-laki menghasilkan pimpinan KPK laki-laki? Oh… My Fucking God…

#koinuntukAustralia


Atau #koinuntukAbbott ?

Terserah yang mana saja.

Barusan, di acara berita di TransTV, dilaporkan bahwa sebuah sekolah dasar juga ikut berpartisipasi mengumpulkan receh sebagai bentuk protes mereka atas protesnya Australia (lewat Abbott secara resmi) kepada kita.

Bapak Wakasek saat diwawancara menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan olah SD terkait (saya terlambat, tidak sempat lihat nama SDnya), dengan tujuan agar anak-anak sedari kecil sudah memahami pentingnya menjadi negara yang berdaulat. Dan Indonesia adalah negara hukum yang berdaulat, punya aturan hukum sendiri, dan tidak bisa dengan sepele dicampuri urusan hukumnya oleh negara lain.

Kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi tidak ada makna yang diubah secara mendasar.

Memang, ini bukan satu-satunya sekolah (SD) yang ikut berpartisipasi setahu saya. Tapi ada yang mengganjal di hati dari berita yang satu ini.

Di salah satu scene, ada sebuah poster (atau selebaran yang ditempelkan dikotak uang?) yang bertuliskan:

Lanjutkan

Lanjutkan

Lanjutkan

Lanjutkan Hukuman Mati!

Sementara, di ruang yang sama, bocah-bocah SD sibuk menyusun/mengumpulkan uang receh. Entahlah, berapa persen dari mereka yang membaca tulisan di poster.

Kelihatannya sepele.

Tapi menurut saya tidak.

Narasi di balik acara pengumpulan receh oleh anak-anak ini mengukuhkan bahwa hukuman mati harus tetap dilanjutkan. Karena, tentu saja, mereka bersalah. Dan menurut hukum Indonesia, mereka pantas mati. Kita bukan bangsa yang lemah, mau membatalkan hukuman bagi orang yang pantas mati, hanya karena campur tangan asing.

Kita sudah mengajarkan kepada anak-anak itu, untuk menilai, siapa yang layak mati.

Sudah wajarkah? Anak-anak diberi pelajaran untuk menilai layak tidaknya seorang penjahat untuk mati? Bahkan manusia dewasa pun, menurut saya tak pantas untuk semena-mena menilai kejahatan mana yang layak diganjar mati.

Pengedar narkoba? Pembunuh? Begal? Teroris? Murtadin? Maling ayam?

Dalam persidangan yang paling fair sekalipun, kita hanyalah meraba-raba, siapa di antara mereka yang pantas mati. Atau lebih tepatnya, hukuman apa yang paling pantas dan adil untuk kejahatan mereka.

Dan kita mau mengajak anak-anak terlibat dalam hal ini?

Dan kita masih bertanya-tanya kenapa berita dengan judul “…dibakar massa” masih terjadi di negara yang katanya negara hukum? Menyalahkan video game dan manga? Atau karena kurang banyak pelajaran agama di sekolah?

Now, let me tell you.

It’s us. We are the problem.

Criminals are criminals. There are no doubts about it. But when you burn them alive, you voluntarily become one.

I think we are worse than Abbott.

Puzzling Indonesians


Dalam rangka memahami lagi apa yang terjadi Mei 1998, saya menyempatkan googling dengan keyword terkait. Mumpung google masih belum diblokir oleh Bapak Tifatul Sembiring, Menkominfo kita yang sangat suci dan berhati mulia (dilihat dari itikad baiknya untuk mengusahakan seluruh masyarakat Indonesia masuk surga).

Mei 1998, saya masih SMP, di kota kecil di Kalimantan. Saya dengar berita, tapi juga masih gagal paham. Masih tidak sepenuhnya mengerti. Dan semua berlalu. Setelah 16 tahun, setelah memiliki kemampuan riset yang mendingan, baca sana-sini, ternyata saya masih gagal paham.

Lepas dari siapa jendral dalang di balik sejarah: hal-hal mengerikan benar-benar terjadi. Kerusuhan, penjarahan, pemerkosaan, pembakaran, penembakan. Laporan saksi banyak menyebutkan, semua aksi diawali oleh provokasi, yang dicurigai di bawah perintah jenderal siapa itu namanya.

Tetapi, pembelaan itu sia-sia, karena jelas: pelakunya, ya kita juga. Wajah-wajah yang sama yang kita lihat setiap hari di cermin. Wajah-wajah yang sama yang kadar kesalehannya tinggi.

Among them, I saw my father’s employees, people who were happily playing with me as a kid, carrying our belongings…

Menarik sebenarnya, kita yang sangat religius, memuja Tuhan mati-matian, justru kehilangan common sense. Tidak perlu sekolah tinggi, tidak perlu naik haji lima kali, tidak perlu uang milyaran untuk punya common sense. Memerkosa, membunuh, apapun alasannya sudah jelas tidak berperikemanusiaan. Kenapa justru kita yang merasa ramah dan sangat saleh mudah diprovokasi dan cepat lupa, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak?

1998 juga bukan titik akhir kegagalan kita memahami common sense. Setelah itu masih banyak kejadian yang membuktikan bahwa religiusitas kita tidak ada manfaatnya. Cikeusik. Sampang, Poso. Fulan dari kampung A rebutan gadis dengan Jaka dari kampung B, bisa berujung kerusuhan antara kampung A dan kampung B. Kita-kita ini jadi massa pasif yang bisa berubah jadi massa aktif dalam hitungan detik.

 

Lalu apa lagi selanjutnya? Siapa lagi korban selanjutnya? Dari  suku mana? Dari agama apa? Dari komunitas apa lagi?