Kontroversi Perempuan Pansel KPK


Artikel asli karya Guru besar hukum tata negara Unmer Malang bernama Yang Mulia Bapak Prosesor Samsul Wahidin ada di sini. Saya cuma copy paste, dengan sediiiikiiittttttttt sekali modifikasi. Sambil membaca coba dibayangkan Guru besar hukum tata negara Unmer Malang bernama Yang Mulia Bapak Prosesor Samsul Wahidin sebagai seorang perempuan.

SEPERTI tiada henti, kontroversi dibuat dalam mengelola negeri ini. Kali ini, seluruh anggota Panitia Seleksi (Pansel) KPK adalah laki-laki. Meski alasan pemilihan seluruh anggota laki-laki itu tidak disebutkan, setidaknya penunjukan tersebut menyulut kontroversi yang justru sebenarnya bak kebalikan moto pegadaian: Menyelesaikan masalah dengan masalah. Semua dengan argumentasi yang kualitatif dan relatif.

Kebijakan itu seolah ’’menelanjurkan’’ bahwa perempuan tidak sesuai untuk duduk di posisi tersebut. Para agamawan yang reputasi moralitasnya tidak diragukan belum memenuhi syarat untuk duduk di pansel. Kebijakan itu juga bermakna percobaan. Bagaimana kalau seluruh anggota pansel adalah laki-laki, tanpa perempuan? Bukankah itu sejarah yang sangat penting sebagai buah kemenangan laki-laki sebagai perwujudan kesetaraan gender?

Aspek Kewenangan

Dari segi kewenangan, kita semua yang membenci korupsi bercita-cita sekurangnya menginginkan terwujudnya tanah air yang bebas korupsi. Korupsi yang tidak semata dipandang sebagai penyimpangan administrasi, tetapi merupakan extraordinary crime. Kejahatan yang bisa membangkrutkan negara. Koruptor tidak semata merugikan keuangan, namun juga pelanggaran berat terhadap prinsip moralitas kehidupan bersama. Karena itu, koruptor layak dijatuhi hukuman mati.

Kesepakatan yang merupakan komitmen tersebut harus terefleksi dalam kinerja konkret, terutama dengan tampilnya orang-orang yang bersih melawan korupsi. Merekalah yang layak menduduki posisi pimpinan KPK. Kejahatan itu umumnya lebih banyak dilakukan kaum perempuan. Sebab, sebagian besar tempat strategis sebagai sumber perilaku korupsi diduduki perempuan. Jadi, keliru jika pansel yang akan memilih tokoh-tokoh itu bukan perempuan.

Jika dirunut, seharusnya refleksi kewenangan untuk memberantas harus diduduki kaum perempuan. Pansel yang membentuk kepemimpinan KPK seharusnya terdiri atas kaum perempuan. Agak ganjil jika perempuan yang nanti menjalani seleksi berhadapan dengan lelaki yang kewenangan –yang bersumber pada biologis– dan geraknya lebih terbatas jika dibandingkan dengan perempuan. Bahasa wayangnya, seharusnya Srikandi, Limbuk atau Cangik, bukan Arjuna, Werkudara, apalagi Gatotkaca.

Pada aspek kewenangan, penunjukan anggota pansel itu merupakan hak prerogatif presiden. Namun, hak tersebut seharusnya diimplementasikan tidak semata dalam makna administratif. Aspek sosiokultural, termasuk agama, seharusnya dijadikan pertimbangan utama. Pada konsep agama, pansel itu adalah pemimpin. Orang yang akan menjadi pimpinan KPK harus tunduk pada aturan pansel yang semua laki-laki. Jadi, itu bertentangan dengan khitah agama dan moralitas sosial.

Pemilihan tersebut tentu berdasar mekanisme yang terukur serta terbuka dan dilakukan tokoh yang memang punya kredibilitas untuk mendudukkan para tokoh yang layak jadi pionir pemberantasan korupsi, dalam hal ini adalah pimpinan KPK. Tetapi, harus dipahami pula, pansel tidak sedang menyeleksi malaikat dan anggota pansel sendiri bukan malaikat. Semua adalah manusia yang tidak luput dari cela dan cacat. Namun, dengan memilih seluruh anggota pansel laki-laki, itu sudah merupakan cacat bawaan.

Dari standar normatif yang menjadi acuan seleksi, di samping yang sudah tertulis, ada keharusan bersifat terukur dalam arti kinerja pansel yang dibentuk itu menggunakan standar yang akuntabel. Akuntabilitas yang tecermin dari profil yang secara sosial bisa diterima. Dan itu ada pada perempuan, bukan laki-laki.

Dengan keharusan kinerja bersifat terbuka, tidak ada kasak-kusuk yang memandang perspektif pemberantasan korupsi dari dimensi yang objektif. Tidak pandang tempat atau asal dari mana pimpinan KPK nanti dipilih. Yang paling mengetahui implementasi hal itu adalah perempuan. Mengartikulasikan hal tersebut bagi seorang laki-laki cenderung menjadi fitnah.

Penyimpangan Administrasi

Tidak bermaksud prejudice, seharusnya tokoh pansel adalah orang yang mempunyai relasi terhadap permasalahan korupsi. Ibarat mengangkat mandor atau pengawas keamanan, hendaknya sosok itu diambil dari tokoh yang dekat dengan masalah keamanan atau orang yang punya hubungan atau relasi yang kuat dengan apa yang seharusnya dijaga. Jadi, ada hubungan emosional yang kuat antara pekerjaan dan personnya. Kalau tidak, mereka akan kehilangan jiwa dari pekerjaan yang dimaksud.

Kali ini begitu aneh. Entah bermaksud vevire pericoloso atau ada motivasi lain menunjuk anggota pansel laki-laki semua. Cenderung aneh pula, tidak ada seorang pun di antara sembilan person itu yang perempuan. Pada satu sisi, itu menjadi kemajuan penting dalam kaitan dengan bias gender. Tetapi, tentu itu bukan masalah dasar yang harus dijadikan pertimbangan. Objektif, bagaimanapun, akses dan orientasi laki-laki tidak akan lebih kuat daripada perempuan. Apalagi ketika yang dihadapi adalah permasalahan yang berkaitan dengan extraordinary crime.

Harapan besar untuk memberantas korupsi, formalnya, ditujukan kepada kepolisian, KPK, dan kejaksaan. Namun, apakah bisa dijamin para tokoh laki-laki yang kendati ’’hanya’’ menjadi pansel itu bisa memilih pimpinan KPK yang benar-benar teruji? Dari perspektif ini, pandangan terhadap korupsi tampak lebih pada penyimpangan administratif daripada bersifat extraordinary crime. Keharusan atau harapan agar KPK menjadi lembaga yang berwibawa juga sulit terpenuhi jika diisi tokoh yang diseleksi kaum laki-laki, yang tentu perspektif kinerjanya akan lebih sempit, tidak sebagaimana perempuan. Kecuali jika nanti dari hasil kinerja itu yang terpilih juga sama-sama laki-laki. Pansel laki-laki menghasilkan pimpinan KPK laki-laki? Oh… My Fucking God…

Panitia seleksi itu sudah lengkap dalam arti keahliannya. Namun, keahlian yang dimaksud tentu tidak berorientasi pada penanganan permasalahan hukum yang memadai. Ketika nanti harus dijabarkan dalam peraturan yang menjadi syarat, hal itu tidak akan bisa terakomodasi secara maksimal, apalagi memperkuat KPK. Ketuanya adalah ekonom, ahli keuangan, dan moneter. Dalam perspektif ini, yang menjadi masalah adalah pemberantasan korupsi yang memandang sebagai permasalahan ekonomi. Padahal, permasalahan korupsi merupakan dimensi hukum serta perilaku menyimpang secara psikologis.

Hal yang juga seharusnya dipertimbangkan, pansel itu mencerminkan aspek sosiokultural. Dalam filosofi Jawa, ada petitih bahwa rusaknya dunia itu karena tiga a: harta, takhta, dan pria. Itu memang relatif, tetapi sampai sekarang belum terpatahkan. Jadi, bagaimana mungkin mengangkat lelaki sebagai key person dalam membentuk kepemimpinan KPK yang kuat, sedangkan laki-laki dalam perspektif ini menjadi sumber kerusakan?

Meski presiden berharap pansel segera bekerja, di sana juga terselip harapan, pansel yang kontroversial itu menjadi catatan yang dengan penuh harap dipertimbangkan kembali untuk mewujudkan harapan presiden tersebut. (*)

Dunia ideal saya adalah dunia yang gender-blind. Kamu bisa jadi apa saja yang kamu mau, nggak peduli kamu numbuhin penis atau vagina di pangkal paha. Jadi, ada yang salah di kepala kamu, kalau kamu mengamini opini Guru besar hukum tata negara Unmer Malang bernama Yang Mulia Bapak Prosesor Samsul Wahidin.

Dan sebaliknya, semua anggota Pansel KPK adalah perempuan juga bukan suatu hal yang seharusnya membuat kita berfikir kalau semuanya sudah baik. Because Ratu Atut, Angelina Sondakh, Nunun N (and others) are also real.

Kita tentu saja patut menghargai keputusan Jokowi yang menunjuk semua anggota pansel perempuan di lingkungan yang alam bawah sadarnya masih beranggapan bahwa perempuan adalah warga kelas dua. Ini adalah sebuah dorongan yang diperlukan untuk membuat perubahan. Memberikan kesempatan perempuan-perempuan yang berkompetensi untuk tampil dan menunjukkan bahwa terlahir dengan aksesoris permanen berupa vagina bukan hal yang buruk. A baby step untuk menciptakan gender-blind society.

Pansel laki-laki menghasilkan pimpinan KPK laki-laki? Oh… My Fucking God…

#4Komedireligi: Stereotype


Mamah Dedeh lagi.

Ada ibu-ibu majelis taklim entah dari mana bertanya:

Mah, kalau ada wanita rajin sholat, ibadahnya bagus, tapi masih bekerja sebagai pelacur (she did say pelacur), hukumnya gimana ya Mah?

Dan, tentu saja, jawaban Mamah Dedeh:

Itu berarti, ibadahnya baru di permukaan saja. Belum meresapi maknanya ibadah. (I have to rephrase it, since she mentioned a particular Arabian language/term for this and I could not remember it).

Begitu banyak hal yang mbingungin, sampai saya tidak tahu harus mulai dari mana.

Mulai dari si ibu penanya. What was her intention asking such question? Does she know the woman of interest very well? A neighbor? A friend? Or even a relative? Saya berasumsi si Ibu kenal dengan wanita yang terkait, kalau tidak buat apa coba si Ibu repot-repot dandan di pagi buta untuk menghadiri pengajian Mamah Dedeh dan secara khusus meminta pendapat soal ibadah si Mbak ke pihak ketiga (si Mamah Dedeh). Apa si Ibu betul-betul khawatir kalau ibadah si Mbak tidak diterima Tuhan? Atau sebenarnya, di lubuk hati si Ibu mengutuk pekerjaan si Mbak, dan menilai, tidak pantas orang yang rajin beribadah menjadi pelacur. Atau bahkan lebih buruk lagi, menurutnya tidak pantas seorang pelacur rajin beribadah. Sudahkah si Ibu penanya, mencari tahu latar cerita kehidupan si Mbak? Atau mungkin berusaha mencarikan jalan keluar (ini hanya jika si Mbak merasa ingin dicarikan jalan keluar)? Permasalahan yang begitu rumit, dengan semena-mena dirangkum dalam satu pertanyaan yang menghina.

Dan tentu saja, kita tidak bisa mengharapkan jawaban yang menenangkan dari Mamah Dedeh. Mamah Dedeh bukan menjawab malah sebetulnya. Dia menghakimi, acting God dan menilai ibadah si Mbak. Karena tentu saja, si Mbak adalah seorang pelacur, dan orang yang rajin beribadah tentu tidak akan bekerja menjadi pelacur.

Tanya jawab berakhir di sana. Begitu pula isi kepala ibu-ibu di sana. Berhenti di sana. Titik. They stereotype and are acting God.

And here I am stereotyping the Ibu-ibu majelis taklim dan Mamah Dedeh.

 

 

#3Komedireligi. Standar ganda: mabuk jamur teletong atau mabuk anggur merah?


Buat saya suatu keajaiban, bagaimana fundamentalis Islam (dan agama lainnya) mampu mengakomodir dua hal yang sangat berlawanan secara bersamaan dalam waktu yang sama, dan di kepala yang sama.

Misalnya, bagaimana ukhti-ukhti HTI dan PKS ikut panas-panasan untuk menyampaikan aspirasi mereka yang isinya mengharamkan demokrasi dan menilai sistem khilafah dengan syariah Islam lebih cocok diterapkan di Indonesia (dan di seluruh dunia kalau bisa). Ironinya, mbak-mbak ini punya hak untuk berorasi di tempat umum juga thanks to the so called “demokrasi orang kafir”. Kalau kita menerapkan sistem khilafah, syariah secara kaffah di Indonesia, maka tugas mereka adalah menjaga rumah bersama tiga istri lainnya, dan belasan anak dari seorang pria yang sama. Entah mereka promosi khilafah dengan kesadaran penuh bentuk masa depan yang mereka idealkan, atau bisa jadi mabuk jamur e`ek sapi berjamaah?

Atau contoh jamak lainya, mereka yang benci mati-matian terhadap sains, karena dianggap bias dan disetir oleh sekularis dan/atau atheist, menolak mati-matian fakta bahwa bumi berumur 4.5 milyar tahun. Padahal segudang pendukung berupa bukti ilmiah sudah ditampilkan dengan sangat sistematis. Mereka gagal paham bahwa teori ilmiah diterima sebagai suatu konsensus yang mainstream setelah melalui proses panjang yang melibatkan observasi, percobaan, peer-review, teori jatuh, observasi, percobaan, peer-review teori bangun, dan seterusnya. Sampai teori tersebut tidak terbantahkan lagi. Ironinya, mereka yang gagal paham lebih memilih percaya ayat suci yang dengan ajaib datang dari bisikan langit bahwa bumi berumur baru 6000 tahun. Halo, saya ngomongin semua agama loh ini.

Yang lebih lucu lagi, saat agama x, misalnya, menertawakan agama y yang meyakini Tuhan adalah corgi gendut berpelampung yang tinggal di planet uranus, sementara mereka sendiri percaya bahwa Tuhan berupa space-pug berpiyama yang diputari oleh matahari dan sesekali liburan di pluto.

Okay-okay, I know I am an ass to the “mabuk agama” guys.

My point is enjoy and keep your religion to yourself.

Beragama itu sesuatu yang sangat subjektif. Titik. Itu faktanya.

Basic beragama adalah percaya tanpa melihat. Kebanyakan mereka yang beragama sungguh-sungguh memiliki pengalaman spiritual yang sangat pribadi. Yang mampu mengalahkan tawaran pindah agama dengan iming-iming Indomie satu truk.

Tapi kok saya jadi ngelantur dakwah nggak jelas ya.

Sebenarnya, tadi mau sharing dua video dari Mesir.

Video satu bertanggal 2 Mei 2013.

Sedangkan video yang kedua bertanggal 18 Mei 2014.

Sudah nonton kan?

Nah, buat saya, si mbak host yang cantik pretty much menggambarkan muslim Indonesia (dan dunia) pada umumnya. Mbaknya punya feature seragam, yang umum dijumpai: standar ganda.

Di video pertama, si Mbak tampak sangat kritis, dan merasa direndahkan dengan paksaan memakai jilbab. Si Mbak tampak sangat developed dan modern, mengkritisi pelecehan seksual yang dilakukan oleh si tamu dalam suatu ritual pengusiran setan.

Dan ironisnya, di video kedua, si Mbak justru bersifat layaknya bapak tamu yang ada di video pertama. Si mbak tidak bisa menerima pemikiran tamu kedua yang menemukan jalan keluarnya dari agama. Si Mbak host menjadi marah saat si tamu kedua menyampaikan keyakinannya bahwa, singkatnya, agama adalah mitos belaka. Things got ugly saat si Mbak host menyampaikan cita-citanya agar syariat Islam diterapkan di seluruh dunia, termasuk hukum potong tangan bagi pencuri, dan rajam batu bagi adulteress (wanita terlibat perselingkuhan) sementara tidak disebutkan adulterer (prianya).

Ada keraguan akan keaslian acara ini. Bisa jadi ini acara macam hipnotis Uya-kuya di televisi. Yang hampir bisa dipastikan: ini bukan video rekayasa buatan Wahyudi dan Rhemason.

Tapi, apa yang ditampilkan dan diributkan adalah nyata. Hal yang sangat umum dijumpai di Indonesia. Kemampuan para hipokrit untuk mengakomodasi standar ganda-lah yang memberi peluang mereka yang “mabuk agama” untuk dengan mudahnya menghakimi dan melarang-larang orang yang berbeda “mabuknya” dari mereka. Karena mereka gagal paham, mabuk jamur e’ek sapi juga sama mabuknya gara-gara minum Topi Miring.

Di saat otoritas mandul dan tidak bisa berbuat apa-apa, maka yang dibutuhkan adalah kesadaran para pemabuk, untuk saling menghormati pemabuk lainnya. Toh sama-sama mabuk ini, kenapa mesti saling meributkan tetangganya mabuk apa sih?

Yo ra dab? 

*Btw, kita semua setuju sama satu hal ya, Mbak host nya bukanlah interviewer yang baik. Rada mirip mbak-mbak di TVOon yes?

#1Komedireligi: vagina dan irisannya dengan masa depan bangsa


BY THE WAY,

sudah satu tahun bumi, robot rover yang bernama Curiosity strolling around on Mars. Robot rover ini tugasnya jalan-jalan di permukaan Mars, foto sana foto sini (even took selfie), belajar biologi, klimatologi dan geologi Mars. Cara Curiosity belajar geologi Mars pun sangat astonishing: mengambil sampel batuan, menggerusnya, dan membaca komposisi dan isotope batuan Mars dari spektra (semua hal rumit yang memerlukan ketelitian dan waktu lama untuk saya kerjakan di laboratorium, semua dikerjakan sendiri oleh Curiosity). Intinya, Curiosity itu GILA! In a good way. Di ulang tahunnya yang pertama, target Curiosity untuk tahu adakah kemungkinan adanya segala bentuk kehidupan di Mars, sudah terpenuhi. Dan jawabannya, adalah iya, lingkungan Mars yang dulu memungkinkan adanya kehidupan (diluar masalah ada atau tidaknya kehidupan itu). Tapi dalam banyak hal, Curiosity itu GILA! Pernah dalam suatu obrolan ringan dengan seseorang yang bekerja untuk JAXA (NASA-nya Jepun), di masa yang lalu, membawa sample batuan dari bulan atau asteroid yang diincar untuk dianalisa di Bumi cukup bikin pusing. Dan teknologi yang ada sekarang memungkinkan Curiosity menganalisa batuan sebanyak-banyaknya tanpa harus membawanya ke Bumi terlebih dahulu.

Terdengar seperti film fiksi ilmiah ya?

Mungkin.

Karena sementara yang terjadi didunia nyata,

di Indonistan, orang-orang pandir eh pandai sedang membicarakan pentingnya tes keperawanan sebagai salah satu syarat untuk masuk SMA. Oh Pak HM Rasyid, whoever you are, why are you so funny? And disgusting?

Or this HM Rasyid may be the one who is in the know about the future of Holy Indonistan. He may be the one who foresees the truth: that we will go nowhere near the outer space if we do not carefully check these young ladies` vajayjays.

Eh, bukan cuma Bapak ini ternyata, dan dia bukan yang pertama. Do yourself a favor, type these keywords in one google search box: Garut, PPP, PKS (or any combination of these three) and keperawanan.

Atau mungkin saya yang salah mengurutkan prioritas? Mungkin sebenarnya vagina yang rapat itu kunci ke langit ke-7?

7 billions (and other numbers beyond my thought)

7 billions (and other numbers beyond my thought)

Ditemani Nina Simone, saya berkontemplasi tentang banyak hal yang belakangan ini terjadi, internal dan eksternal diri saya. Rasanya ada pepatah lama yang bilang, lebih sulit mempertahakan ketimbang memulai. EH, kok saya justru merasa sebaliknya ya? Saya termasuk orang yang lambat panas. It takes 7 taps for me when others only need 1. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa blog ini bersifat intermittent; cuma ada tulisannya pas otak saya lagi musim hujan.
situ penasaran?