#4Komedireligi: Stereotype


Mamah Dedeh lagi.

Ada ibu-ibu majelis taklim entah dari mana bertanya:

Mah, kalau ada wanita rajin sholat, ibadahnya bagus, tapi masih bekerja sebagai pelacur (she did say pelacur), hukumnya gimana ya Mah?

Dan, tentu saja, jawaban Mamah Dedeh:

Itu berarti, ibadahnya baru di permukaan saja. Belum meresapi maknanya ibadah. (I have to rephrase it, since she mentioned a particular Arabian language/term for this and I could not remember it).

Begitu banyak hal yang mbingungin, sampai saya tidak tahu harus mulai dari mana.

Mulai dari si ibu penanya. What was her intention asking such question? Does she know the woman of interest very well? A neighbor? A friend? Or even a relative? Saya berasumsi si Ibu kenal dengan wanita yang terkait, kalau tidak buat apa coba si Ibu repot-repot dandan di pagi buta untuk menghadiri pengajian Mamah Dedeh dan secara khusus meminta pendapat soal ibadah si Mbak ke pihak ketiga (si Mamah Dedeh). Apa si Ibu betul-betul khawatir kalau ibadah si Mbak tidak diterima Tuhan? Atau sebenarnya, di lubuk hati si Ibu mengutuk pekerjaan si Mbak, dan menilai, tidak pantas orang yang rajin beribadah menjadi pelacur. Atau bahkan lebih buruk lagi, menurutnya tidak pantas seorang pelacur rajin beribadah. Sudahkah si Ibu penanya, mencari tahu latar cerita kehidupan si Mbak? Atau mungkin berusaha mencarikan jalan keluar (ini hanya jika si Mbak merasa ingin dicarikan jalan keluar)? Permasalahan yang begitu rumit, dengan semena-mena dirangkum dalam satu pertanyaan yang menghina.

Dan tentu saja, kita tidak bisa mengharapkan jawaban yang menenangkan dari Mamah Dedeh. Mamah Dedeh bukan menjawab malah sebetulnya. Dia menghakimi, acting God dan menilai ibadah si Mbak. Karena tentu saja, si Mbak adalah seorang pelacur, dan orang yang rajin beribadah tentu tidak akan bekerja menjadi pelacur.

Tanya jawab berakhir di sana. Begitu pula isi kepala ibu-ibu di sana. Berhenti di sana. Titik. They stereotype and are acting God.

And here I am stereotyping the Ibu-ibu majelis taklim dan Mamah Dedeh.

 

 

#koinuntukAustralia


Atau #koinuntukAbbott ?

Terserah yang mana saja.

Barusan, di acara berita di TransTV, dilaporkan bahwa sebuah sekolah dasar juga ikut berpartisipasi mengumpulkan receh sebagai bentuk protes mereka atas protesnya Australia (lewat Abbott secara resmi) kepada kita.

Bapak Wakasek saat diwawancara menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan olah SD terkait (saya terlambat, tidak sempat lihat nama SDnya), dengan tujuan agar anak-anak sedari kecil sudah memahami pentingnya menjadi negara yang berdaulat. Dan Indonesia adalah negara hukum yang berdaulat, punya aturan hukum sendiri, dan tidak bisa dengan sepele dicampuri urusan hukumnya oleh negara lain.

Kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi tidak ada makna yang diubah secara mendasar.

Memang, ini bukan satu-satunya sekolah (SD) yang ikut berpartisipasi setahu saya. Tapi ada yang mengganjal di hati dari berita yang satu ini.

Di salah satu scene, ada sebuah poster (atau selebaran yang ditempelkan dikotak uang?) yang bertuliskan:

Lanjutkan

Lanjutkan

Lanjutkan

Lanjutkan Hukuman Mati!

Sementara, di ruang yang sama, bocah-bocah SD sibuk menyusun/mengumpulkan uang receh. Entahlah, berapa persen dari mereka yang membaca tulisan di poster.

Kelihatannya sepele.

Tapi menurut saya tidak.

Narasi di balik acara pengumpulan receh oleh anak-anak ini mengukuhkan bahwa hukuman mati harus tetap dilanjutkan. Karena, tentu saja, mereka bersalah. Dan menurut hukum Indonesia, mereka pantas mati. Kita bukan bangsa yang lemah, mau membatalkan hukuman bagi orang yang pantas mati, hanya karena campur tangan asing.

Kita sudah mengajarkan kepada anak-anak itu, untuk menilai, siapa yang layak mati.

Sudah wajarkah? Anak-anak diberi pelajaran untuk menilai layak tidaknya seorang penjahat untuk mati? Bahkan manusia dewasa pun, menurut saya tak pantas untuk semena-mena menilai kejahatan mana yang layak diganjar mati.

Pengedar narkoba? Pembunuh? Begal? Teroris? Murtadin? Maling ayam?

Dalam persidangan yang paling fair sekalipun, kita hanyalah meraba-raba, siapa di antara mereka yang pantas mati. Atau lebih tepatnya, hukuman apa yang paling pantas dan adil untuk kejahatan mereka.

Dan kita mau mengajak anak-anak terlibat dalam hal ini?

Dan kita masih bertanya-tanya kenapa berita dengan judul “…dibakar massa” masih terjadi di negara yang katanya negara hukum? Menyalahkan video game dan manga? Atau karena kurang banyak pelajaran agama di sekolah?

Now, let me tell you.

It’s us. We are the problem.

Criminals are criminals. There are no doubts about it. But when you burn them alive, you voluntarily become one.

I think we are worse than Abbott.

Masukkan judul di sini


DISCLAIMER: Murni curhat nggak jelas. Run now!

I am having a hard time.

Sejauh ini, sekarang adalah yang terberat. Asal mulanya karena saya pulang dalam keadaan kalah. Bukan oleh siapapun. Saya dikalahkan oleh kelemahan saya sendiri. Ambisi yang belum tersampaikan. Kekalahan ini serta merta membuka jalan untuk segala rasa menjijikkan: lemah dan tidak percaya diri. Dan segala detil lain yang mengekor di baliknya. I still couldn’t write well what I am supposed to write on my paper. And the time is ticking.

Sebagian dari saya berfikir, I know, this is not the time to rethink the existence of the omnipotent God. He was there, then He wasn’t. Then He returns (probably?).

Again, my mind is crumbling. Nightmares after nightmares. Last night I dreamt of a big, vast body of water on my right side, and I was driving an old car through a narrow path, barely enough for my car. Some parts of the path were even flooded.

The other night, I was simply drown in an ocean. The vast ocean was always there, dream after dream after dream after dream.

Smirnoff ice could not help anymore. Perhaps I need the stronger ones?

When I am sober, I keep thinking about life. The universe.

Bukan saatnya. OK, mungkin saya perlu Tuhan.

Tapi khutbah Jumat yang terdengar dari masjid kampung sebelah sangat aneh.

Membaca Quran didahului wudhu, maka pahalanya 25. Jika tidak didahului wudhu, maka pahalanya cuma 10.

I chuckled. Memikirkan dengan satuan apa Tuhan  mengukur pahala dan dosa.

ph dan ds?

atau +ph dan -ph?

Dan mencoba menebak, berapa banyak pahala yang diperlukan untuk masuk surga.

It reminds me of a scene from Band of Brothers ep. 10. Everyone wanted to go home. But they needed minimum scores to go home. Not everyone had enough scores, simply because they were never wounded during the war. Then there was this soldier, named “Shifty” Powers. He didn’t have enough score to hit home, and his boss stepped in. They faked a lottery, and deliberately sent Shifty home for he had done too much for the war.

Mungkin, para wakil Tuhan di bumi sudah punya contekan skor minimal yang diperlukan untuk masuk surga. Tapi, kalau Tuhan betul omnipotent, maka sebagai boss, Tuhan berhak memberikan free pass kepada siapapun yang dimaui. Lady Gaga sekalipun.

I lost it there. He is gone, once again.

 

WHAT WAS THAT?

Haha.

Well, here is a picture of my son. Wrapped in blankie, like a burrito.

10984972_10200308353947834_772168411_n

Mencoba menjadi Mamah Dedeh


Kalau salah satu ibu-ibu majlis taklim ada yang bertanya: Mamah, anak saya sudah haid selama hampir 30 hari. Darahnya nggak berhenti keluar. Itu sebaiknya ibadahnya bagaimana ya Mah? Hukumnya, sholatnya diterima atau nggak ya Mah?

Maka saya seharusnya menjawab dengan urutan:

1) menjelaskan perbedaan antara darah kotor dan darah bersih menurut Nabi Muhammad saw

2) Lalu memberi instruksi ke si ibu untuk ambil sample darah putrinya, kalau deskripsinya lebih cocok dengan darah kotor, maka haram sholat dan segala bentuk ibadah lainnya. Tapi kalau sebaliknya, you go girl! Sholat dan ibadahlah sebanyak-banyaknya.

Itu sudah yang paling benar.

Bukan urusan si Mamah Dedeh, si anak ibu itu sakit apa. Apalagi kita hidup di dunia yang tidak ada dokternya seperti ini. Do’a lebih bermanfaat, terutama di detik-detik mendekati ajal.

Idulfitri di earth-like planet


Ini lebaran ke-3 saya rayakan jauh dari orang-orang tersayang. Maaf-maafan cuma lewat skype. Tapi it’s all good, karena tahun depan sepertinya saya sudah bisa berlebaran di rumah. Tapi pengungsi Syiah dari Sampang, punya nasib yang lebih buruk. Dilarang pulang ke kampung halamannya untuk lebaran. Nekat pulang, bisa jadi malah jadi lebaran terakhir. Syiah minoritas di Indonesia. We hate them, kata para ulama mainstream Indonesia yang kebanyakan Sunni. Di Iraq bahkan, ISIS sudah bergerak menghabisi Syiah, dan juga umat Kristiani. Poor Syiah. Di Iran, mungkin ada harapan bagi Syiah, karena mereka bukan minoritas disana. Tapi bumi tidak serta merta damai. Di atas langit masih ada langit, di bawah minoritas, masih ada minoritas. Masyarakat kelas 2 dan 3 dalam bahaya. There is an endless chain of hatred, within Islam. Semua pihak tentu saja merasa apa yang dilakukan, membunuh sekalipun, semua atas nama ajaran Tuhan dan Rasulnya, dari Kitab Suci Al-Quran dan Hadith.

Kita yang ada di luar lingkaran kebencian ini, tentu saja tidak boleh salah paham. Mereka bilang “Kita damai kok” sambil nggak sengaja pisaunya nempel kulit leher kita.

Serem ya?

Tenanggg, tadi semua cuma dongeng kok. Tidak betul-betul terjadi di bumi kita yang ini. Manusia penghuni bumi kita ini sudah paham bahwa menghormati umat manusia lain adalah hal yang paling dasar dan mudah untuk dimengerti. Tidak perlu hafal satu bundel tebal kitab suci untuk tahu bahwa we’re all just humans. We share the same earth, oxygen, and water. Whatever you eat, babi atau bukan, kita tetap harus mengeluarkan kotoran. Bedanya cuma mau jongkok atau duduk. Karena Islam itu rahmatan lil alamin. Ajaran damai untuk seluruh umat manusia. Let me rephrase it: Islam brings happiness for every single human being on earth.

Jadi met lebaran ya!

Bagi opor dong! Kalo nggak, rajam nih!

Prabowo, sang juru selamat Indonesia


Saya menuliskan entry ini sambil “menyilangkan jari”, berharap apa yang saya takutkan cuma imajinasi buruk saja. Tidak akan jadi kenyataan.

Setelah 9 Juli, saya pikir drama pilpres, yang menguras pikiran dan tenaga (bahkan) rakyat kecil semacam kita, akan segera berakhir.

Tapi ternyata, kita memasuki season kedua.

Terus terang saja, darah saya mendidih melihat klaim tim Prabowo-Hatta di TvOon. Bukan, bukan karena saya takut Jokowi-JK kalah. Saya sudah menyiapkan mental jika memang hasil quick count menunjukkan pasangan yang saya dukung kalah. Saya dan pacar, ketar-ketir seharian mengamati quick count oleh RRI yang dilaporkan di situs Antara. Kami berusaha menyiapkan mental, jika memang Jokowi kalah.

Dan tentu saja, setelah data masuk mencapai diatas 70%, kami merasa lega. Cross-check ke CSIS, SMRC, dan Kompas juga sudah dilakukan. Kami menjadi optimis, harapan yang kami titipkan ke Jokowi ada peluang besar bisa tercapai. Sudah jelas, Jokowi sudah terpilih secara demokratis sebagai presiden RI 2014-2019.

Tapi, begitu Prabowo mengumumkan klaim mereka, semuanya jadi suram. Kalau banyak orang berpendapat, Prabowo terlihat seperti kaisar telanjang akibat bisikan-bisikan orang di sekitarnya, saya justru berpendapat, they are working on their plan B, or even their plan A, the original plan.

Apa yang dilakukan oleh kubu Prabowo membuat semuanya menjadi sulit. Bukan bagi kubu Jokowi, melainkan buat Rakyat Indonesia. Rakyat di kelas bawah seperti saya, dan kamu.

Dengan ngotot berpegang pada hasil “Quick Qount” mereka, anything could happen between July 9-July 22. Their most possible last resort would be playing with KPU. Kalau sudah begini, akan ada dua kemungkinan konsekuensi

  1. Jika hasil KPU ternyata berbeda jauh dari hasil Quick Count yang sudah sesuai dengan kaidah statistik, berarti jelas kubu Prabowo memang bermain di KPU. Karena satu-satunya cara adalah menggelembungkan suara agar sesuai dengan harapan kubu mereka. Tentu kubu Jokowi tidak menerima begitu saja
  2. Jika KPU jujur dan menunjukkan hasil yang kurang-lebih sama dengan hasil Quick Count yang sudah sesuai dengan hasil statistik, maka Jokowi menang, dan Prabowo masih tidak bisa terima kekalahan.

Skenario manapun yang terjadi, provokasi kecil saja bisa menimbulkan kerusuhan di akar rumput. Jika yang terjadi skenario (1), maka sudah pasti tim Jokowi akan membawa permasalahan ke MK, dan yang harus mereka persiapkan adalah bukti pendukung yang kuat. Skenario (2) juga bisa diMK-kan oleh kubu Prabowo, jika Prabowo masih tidak bisa membendung mimpinya untuk jadi presiden Indonesia periode 2014-2019.

Tetapi, whichever way we go, potensi rusuh di akar rumput cukup besar.

Hal inilah yang membuat darah saya mendidih marah. Kecewa sekali terhadap Prabowo yang rela mengorbankan rakyat Indonesia demi kekuasaan yang–saat ini dia sudah tau betul–tidak bisa dimenangkannya di tahun ini. That is just beyond pathetic. Jargon-jargonnya yang ultranasionalis memang ternyata cuma sebatas jargon. Menjijikkan buat saya, kalau Prabowo rela mengobarkan perpecahan di kelas bawah rakyatnya hanya untuk duduk di kursi presiden untuk 5 tahun.

Makanya, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berkepala dingin, lebih pintar dan bijak menilai data/informasi, dan bersedia menerima kenyataan walaupun pahit. Dan yang paling penting: bersedia angkat topi untuk yang menang.

Selain ini, kita juga perlu untuk memastikan:

  • Presiden SBY yang tidak memihak dan memastikan semua berjalan jujur,
  • KPU yang tidak diintervensi oleh siapapun dengan uang berapapun,
  • rakyat harus berkepala dingin, tapi juga terus mengawal suara sampai resmi diumumkan oleh KPU nanti
  • Prabowo yang lebih legowo menerima kenyataan walaupun sepahit kulit manggis

Jika dalam kampanyenya Prabowo selalu berteriak bahwa dialah satu-satunya yang sanggup menyelamatkan Indonesia, maka inilah satu-satunya kesempatan Prabowo untuk mewujudkan cita-citanya menjadi juru selamat Indonesia: dengan berjiwa ksatria mengakui kekalahan.

Ditengah perasaaan campur aduk terhadap Prabowo dan orang di sekitarnya, saya masih punya harapan kepada kekuatan rakyat. Kekuatan Kita. I really do hope, the universe is with us.

.

.

.

Catatan tambahan minor: Sebenarnya, solusi paling ultimate adalah pendidikan statistik dasar yang benar untuk seluruh rakyat Indonesia. Tapi solusi ini butuh waktu yang lama. Istilahnya, keburu pemilu 2019 juga belum tentu kelihatan hasilnya. Seorang kawan saya, dokter lulusan salah satu universitas terbaik di Indonesia, bahkan gagal paham dasar-dasar statistik yang dipakai untuk quick count. Hanya karena bias terhadap pilihan dukungannya. Dan dia tidak sendiri. Marilah kita berhenti meludahi muka kita sendiri, dengan hal-hal yang konyol.

 

 

 

“Prabowo emang bener keleuussss.”


Kata ABG ibukota di pertengahan 2014.

Aneh sebenarnya kalau orang-orang ramai meributkan berita disini.

Screen Shot 2014-06-11 at 6.45.14 PM

 

Karena pada kenyataannya, memang kebodohan menjadi salah satu beban utama bangsa kita. Yang bodoh siapa? Ya kita-kita juga.

Kalau rakyat cerdas, maka dari awal Pak Jefferson Rumajar yang sudah menjadi tersangka korupsi 19 M tidak akan terpilih lagi pada tahun 2010. Dan Pak Gamawan Fauzi juga seharusnya tanggap dengan mambatalkan pelantikan dan tidak perlu lagi repot-repot berfikir harus dilantik di penjara atau bagaimana.

“Kalau pun tidak diberi izin kan hanya masalah tempat. Pelaksanaan pelantikan setelah rapat paripurna DPRD, bisa saja di kantor Kementerian Dalam Negeri, bisa juga ditempat lain yang ada di Jakarta, bisa juga di daerah [penjara] itu. Yang penting masih di Jakarta, dan saya harapkan KPK mengeluarkan izin, “ kata Gamawan.

Kalau rakyat pintar, maka Pak Aceng Fikri tidak seharusnya lolos pemilihan legislatif 2014 dan menjadi anggota DPR-RI. Bravo rakyat Ja-Bar!

Sayang sekali, rakyat Ja-Teng sudah sedikit lebih ok karena berhasil menggagalkan Mbak Angel Lelga. Puk-puk Mbak Angel yang sudah rela bersusah payah jualan koleksi tas Hermes-nya demi pemilihan legislatif.

Kalau rakyat pintar, maka tidak lagi melihat atribut luar (agama, suku, dan masalah-masalah personal) sesorang untuk pemilihan apapun.

Lucu, kalau memilih Jokowi karena prabowo tidak punya istri dan dikabarkan dikebiri. You don’t need a titit to be a good president. Dan sebaliknya, lucu juga kalau pilih Prabowo karena Jokowi dikabarkan Cina, non-muslim, dan cungkring. Apa salahnya jadi Cina dan non-muslim kalau memang berkualitas? Belum lagi ternyata Jokowi bukan Cina dan bukan non muslim. Dan maaf, chubby is never a requirement for a president.

Jadi kesimpulannya, Prabowo memang benar. Rakyat Indonistan bodoh dan naif bukan isapan jempol belaka.

Bukti yang paling mencrong-mencrong: bagaimana mungkin memilih pro prabowo yang keterkaitannya dengan beberapa masalah HAM sudah menjadi berita dari zaman dulu? Diperintah atau memerintah, keterlibatannya sudah dibuktikan dengan DKP. Kalau keberatan dan merasa difitnah, dibuka saja lagi proses hukumnya yang tidak pernah terjadi karena ada pengaruh Eyang Suharto. Mari kita beri kesempatan hukum kita yang masih lumayan payah untuk membuktikan bahwa kita tidak sebiadab itu. Mumpung Pakde Wowo belum punya kekuasaan yang lebih besar dari jadi ketua HKTI. Mumpung Pakde Wowo belum punay kuasa untuk mengubur lebih dalam lagi dosa masa lalunya. Mari buktikan bersama rakyat.

Titik.

Bagaimana mungkin memilih Pakde Wowo yang tanpa konstipasi pun jejak suram masa lalunya ngablah-ngablah di dunia nyata, dan lebih memilih percaya bahwa maju-nya Jokowi adalah hasil konstipasi Wahyudi, Nazril dan Rika?

Bagaimana mungkin manusia sehat yang cerdas memilih mengindahkan bukti nyata dan lebih percaya teori-teori angan-angan ala novel KGB vs. CIA, yang tidak bisa dibuktikan?

Yo ra dab?